12
Okt
16

Gowes ke Rancakalong 

Hari minggu 2 Oktober 2016, cuaca agak mendung di jatinangor, bingung mau ngapain ?…akhirnya keluarkan sepeda dan gowes kearah Tanjungsari Sumedang, rute datar sekitar 6 km namun rame dengan truk dan bus. Tidak jauh setelah pasar Tanjungsari, saya melihat papan penunjuk kearah Rancakalong…daerah apa ini ya ?…rasanya saya saya pernah dengar.  Saya putuskan mengikuti arah jalan tersebut yang menanjak halus dan panjang. Ternyata saya sampai didaerah yang akan menjadi jalan tol Cisumdawu…Cileunyi Sumedang Dawuan. Saya ikuti jalan tersebut namun melalui jalan lama, tampaknya masih lama selesainya karena masih sepotong sepotong jalurnya. Tetapi kalau nanti selesai, mungkin akan banyak mengirit waktu untuk menuju arah Sumedang, Tasik, Garut dan sekitarnya.

Karena saya tidak tau jalan, saya coba tanya ke penduduk, gimana caranya saya kalau mau kearah Ujungberung/Cibiru. Pada umumnya mereka menjawab kembali lagi ke Tanjungsari lewat jalan raya, tetapi saya nggak mau lewat jalan itu lagi. Kata mereka ada jalan tapi aspal jelek dan nanjak, terus ke bukit Manglayang dan turun di Cibiru. 

Akhirnya dengan banyak bertanya malu dijalan, saya teruskan perjalanan.. sampai akhirnya ada seorang bapak yang saya cukup jelas infonya, saya harus mencari daerah talang kemudian belok kiri cari daerah Cijambu, terus lagi cari desa Pesanggrahan kemudian bukit Manglayang. Ternyata jalurnya memang benar, menanjak terus, aspal rusak, jarang penduduk krn daerah hutan dan dipinggir kanan ada jurang yang cukup dalam. Saya hanya bertemu dengan orang yang sedang menebang pohon dihutan tersebut. Sampai sini sudah tidak mungkin untuk kembali, saya teruskan perjalanan dengan berdoa dan cepat mencapai pemukiman. Akhirnya saya menemukan jalan desa yang sudah di beton bagus dan menurun terus yang berakhir di desa Cijambu. Desa ini cukup terpencil, dikelilingi pohon pinus krn memang disini terdapat pembibitan pohon pinus, ternyata juga terdapat bumi perkemahan.

Perjalanan saya lanjutkan lagi melalui jalan aspal rusak menanjak dan berakhir di desa Pesanggrahan. Disini kabut sudah mulai turun. Di balai desa saya menanyakan rute ke bukit Manglayang, namun saya disarankan untuk tidak kesana sendirian, karena menembus hutan, kabut dan licin. Disarankan untuk pulang lewat Tanjungsari saja melalui jalan didepan desa yang menurun tajam. 

Akhirnya saya ikuti saran mereka, pulang melalui desa Pesanggrahan, desa Mariuk sampai ke Tanjungsari, dengan diiringi hujan lebat saya sampai kembali di Jatinangor..Alhamdulillah perjalanan aman terkendali walaupun sambil banyak bertanya. 


0 Responses to “Gowes ke Rancakalong ”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: