24
Okt
16

Gowes ke Gunung Papandayan Garut

Kembali googling dimanakah letak Gunung Papandayan ? Maksudnya termasuk kecamatan apa di Garut, kearah mana dan berapa jaraknya. Tidak ada satupun yang menulis gowes kearah sana dari kota, kebanyakan semua loading mengunakan kendaraan sampai tujuan kemudian turun offroad kearah Pangalengan atau terus ke Bandung. Akhirnya saya menggunakan petunjuk para backpacker yang mau camping disana atau yang menggunakan sepeda motor.

Hari minggu pagi dengan cuaca hujan lebat saya berangkat ke Garut membawa Titus Motolite, sepeda MTB fullsusp karena saya benar benar buta rutenya, walaupun menurut para pemotor  jalannya aspal sampai tujuan. Sebelum sampai Garut, saya mengontak teman saya mang Acep, dulu tinggal di Bogor tetapi sekarang pindah ke Garut. Saya akan minta ijin untuk titip mobil dirumahnya. Ternyata beliau juga sedang galau, mau gowes tapi hujan. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengantarkan saya ke kawah Gn Papandayan. 

Setelah persiapan sepeda dan istirahat dirumah mang Acep sambil disuguhi ‘teh kopi’…bingung kan ? Ternyata kulit dari biji kopi yang biasanya dibuang, dikeringkan dan dikemas sebagai ‘teh kopi’ .. Rasanya tawar saja tidak seperti teh, tentu saja karena memang bukan terbuat dari daun teh. Khasiatnya apa juga belum diteliti katanya baru sebatas industri rumahan saja.

Persiapan selesai, kita start pukul 07.45 dari rumah mang Acep didaerah Samarang, kurang 5 km dari kota Garut. Hujan masih lebat, tapi tidak menyurutkan niat kami untuk tetap berangkat. Perjalanan dimulai dari jalan raya Samarang menuju kearah Cisurupan.  Saya jadi ingat lagi, dari jalan raya Samarang, belokan pertama ke Kamojang, belokan kedua ke Darajat. Melewati pasar Samarang kami lanjutkan perjalanan berikutnya kearah Bayongbong. Berhubung jalan tidak terlalu menanjak dan kami belum merasa lelah, perjalanan kami lanjutkan sampai Cisurupan. Disini kami berhenti di ….mart seperti biasa untuk menambah perbekalan dan mengatur nafas. Jarak sampai sini baru menunjukan 18 km.  Perkiraan masih ada sekitar 10 km lagi, 5 km pertama katanya masih banyak rumah penduduk dan jalan tidak terlalu menanjak. Setelah dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan lurus dari jalan utama, karena yang kearah kiri adalah yang menuju Cikajang Garut. Memang betul, 5 km pertama memang masih bisa digowes akan tetapi sudah mulai ada perpindahan gigi belakang yang menunjukkan ada perubahan elevasi. Betul saja, setelah kira-kira 5km jalan  mulai menanjak halus dan panjang, datar sedikit kemudian menanjak lagi. Dan dimulailah tanjakan yang sebenarnya dan cukup ekstrim serta menguras tenaga. Namun demikian kata mang Acep, kita agak tertolong dengan udara yang mendung, gerimis dan kabut sehingga jarak pandang agak terbatas. Kami lewati papan penunjuk kawah masih 2.5 km, dan tanjakan demi tanjakan kami lalui dengan susah payah. Beberapa kali saya harus berhenti untuk mengatur detak jantung yg mencapai maksimal. 

Akhirnya dengan termehek-mehek namun tetap semangat, sampailah kami di pintu gerbang kawasan kawah Gn Papandayan. Disini kita harus membeli karcis masuk lebih dahulu. Harga karcis menurut saya cukup mahal, 40 ribu perorang termasuk sepeda !! Akhirnya mau nggak mau kami harus beli, karena tinggal beberapa ratus meter lagi kami sampai ditempat parkir kendaraan. Setelah pintu gerbang, masih ada 1 tanjakan yang lumayan curam dan cukup panjang.

Hanya beberapa ratus meter, rasanya beberapa kilo meter !!…pukul 12.30 sampailah kami ditempat parkir yang sangat luas. Sampai disini hujan hilang timbul namun kabut bertambah tebal.

Tadinya saya sudah tidak mau naik lagi kekawah karena sudah sangat lelah, tapi mang Acep tetap memberi semangat, nanjak sedikit lagi dibatu-batu, sampailah kita dikawahnya. Akhirnya saya ikut apa kata mang Acep saja, sepeda terpaksa dituntun karena jalurnya banyak batu-batu lepas dan beberapa jalur air. Mungkin masih banyak lokasi lain disana   namun setelah menaiki tangga sambil membawa sepeda, saya merasa tenaga sudah habis, sehingga kami putuskan sampai disini saja. Lumayanlah ada beberapa spot yang bagus untuk berfoto ria dengan latar belakang gunung yang tertutup kabut. Pukul 13.00 sampailah kami ditempat yg lumayan bagus untuk berfoto ria. Dapat dibayangkan betapa terjalnya tanjakan menuju tempat ini, jarak hanya sekitar 7 km dari Cisurupan kami tempuh dalam 3.5 jam ! 

Setelah cukup, pukul 13.30 kami putuskan untuk turun karena kabut juga semakin tebal. Kembali kami lalui jalan masuk tadi, dan sesampainya di tempat parkir, semua terlihat putih !! … akhirnya kami mengikuti petunjuk yang dicat putih. Dari sini kami lanjutkan perjalanan ke daerah Samarang juga dengan kabut dan gerimis. Jalur pulang menurun terus sampai rumah mang Acep pukul 15.00 dengan basah kuyup karena hujan, keringat dan cipratan dari mobil yang mendahului kami. Alhamdulillah…one of my dreams came true…special thanks to mang Acep yang telah mengantar dengan sabar dan dengan foto-fotonya yang kereeen ! 

Sampai bertemu di tujuan yang lain. Keep pedaling and healthy guys .!

Total jarak tempuh sekitar 50km, total waktu 7 jam termasuk istirahat dan foto-foto, total dehidrasi 1.5 liter, total kalori 2500 kcal, elevasi 700 mdpl ke 2039 mdpl

šŸ˜“

21
Okt
16

Gowes Subang-Jatinangor

Kembali googling dulu, adakah jalan menuju Jatinangor dari Subang yang ‘layak’ untuk saya lalui, karena saya hampir  selalu mencari jalan mulus dan sendirian. Ternyata ada jalan potong langsung dari Subang/Jalan Cagak yang langsung ke Sumedang atau Jatinangor.

Tanggal 15 Oktober 2016 Sabtu pagi, saya mencoba jalur ini memakai sepeda Titus Motolite, sengaja saya memakai sepeda fullsusp karena saya belum yakin bagaimana kondisi jalannya. Sekitar pukul 08.30 saya start dari kota Subang menuju Jalan Cagak, jalannya sangat mulus dan cukup lebar namun ramai lalu lintas mungkin karena weekend. Makin menuju Jalan Cagak, jalan makin menanjak walaupun tidak terlalu ekstrim. Ternyata Jalan Cagak adalah suatu tempat dimana terdapat pertigaan seperti sebuah cagak, yang lurus menuju Tangkuban Parahu, yang belok kiri menuju Sumedang. Jarak tempuh sampai tempat ini sekitar 16km.

Saya mengambil jalur kiri, jalan masih mulus, datar dan banyak tukang jualan nanas dipinggir jalan. Tidak lama saya melalui perkebunan teh Kasomalang dengan pemandangannya yang bagus, sempat beristirahat dan foto-foto disini. Perjalanan dilanjutkan dengan banyak bertanya karena tidak tau desa setelah ini, berapa perkiraan jaraknya dan jalan mulus mulai naik turun namun halus. Ternyata tujuan berikut adalah desa Cikaramas di milestone tertera CKM dan tertera masih 20 km-an. Kanan kiri jalan masih banyak rumah penduduk bahkan ada ….mart, tempat favorit saya untuk istirahat sambil beli perbekalan.

Dari Cikaramas perjalanan saya lanjutkan lagi dengan tujuan berikut adalah desa Rancakalong. Milestone juga menunjukkan angka sekitar 20 km-an. Jalan aspal mulai berkurang kemulusannya, beberapa berlubang namun tidak dalam, agak menanjak sedikit dan berkelok-kelok, mengingatkan saya jalan di daerah kelok ampek ampek Sumbar. Disini saya mulai kelelahan, jalan sangat sepi, kanan jalan tebing, kiri jalan jurang, namun masih layak untuk mobil berpapasan karena ini memang jalur alternatif ke Sumedang. Beberapa kali saya berhenti untuk menormalkan irama jantung saya yang selalu diperingatkan oleh jabra pulse wireless yang saya pakai sambil mendengarkan lagu. Mulai mendekati Rancakalong cuaca mendung tebal dan akhirnya sampailah saya di Rancakalong dengan guyuran hujan lebat. Untung saya selalu membawa jas hujan, sehingga walaupun hujan saya tetap meneruskan perjalanan. 

Di Rancakalong saya beristirahat kembali, disini ada beberapa ruas jalan yang rusak/berbatu terutama saat menuju beberapa jembatan yang membentang diatas proyek jalan tol Cisumdawu ( Cileunyi-Sumedang-Dawuan ). Hujan lebat terus mengguyur selama perjalanan membuat perut lapar karena belum makan siang. Alhamdulillah ada tukang sate ayam madura yang baru mulai buka, lumayanlah 10 tusuk sate ayam + lontong untuk mengganti tenaga yang hilang. Jalan masih naik turun, walaupun halus namun badan sudah capek sangat. Akhirnya sampailah di jalan raya Tanjungsari, saya belok kanan yang kearah Jatinangor.

Sejak Tanjungsari jalan terus menurun namun tetap hujan lebat dan ramai lalu lintasnya sehingga tetap harus hati-hati.Akhirnya  pukul setengah 6 sore, sampailah saya di Jatinangor langsung ketempat kos anak saya dengan badan kotor penuh tanah dan basah kuyup. Jarak tempuh dari Rancakalong sekitar 20 km. 

Alhamdulillah perjalanan ini aman terkendali walaupun sangat menguras tenaga dan dibawah hujan lebat sehingga sedikit takut untuk melibas genangan air, siapa tau ada lubang dibawahnya. Akhirnya saya mendapatkan  rute alternatif untuk menengok anak saya sambil berolahraga.

Total jarak tempuh 71 km, total waktu tempuh 9 jam, total dehidrasi 2.5 l, total kalori 4300 kcal

Keep pedaling and healthy guys !

12
Okt
16

Gowes ke Situs Gunung Padang Cianjur

Setelah melakukan browsing beberapa kali dan mencari info dari beberapa teman yang sudah pernah ketempat tersebut, berangkatlah saya bersama teman fisioterapis BMC. Awalnya kami akan berangkat bersama beberapa teman namun mereka mengundurkan diri karena berbagai sebab, akhirnya cuma kami berdua nekat berangkat.

Hari minggu 18 September 2016 jam 6 pagi kami berangkat dari BMC menuju puncak, cuaca lumayan dingin karena sedang musim hujan. Tidak banyak bertemu goweser krn mungkin memang masih pagi, alhamdulillah sekitar jam 10 kami sudah sampai mang ade. Perjalanan dilanjutkan menuju Cianjur, jalan menurun terus dan sepi, hanya ada tanjakan disekitar Cipanas menuju Pacet.Dari sini kami hampir tidak mengayuh pedal, kaki bisa istirahat setelah bekerja keras dari Bogor ke Puncak. Jarak dari Puncak sampai ke Cianjur sekitar 30 km, dalam 1 jam kami sudah masuk kota Cianjur. Setelah istirahat beberapa saat, perjalanan kami lanjutkan menuju arah Sukabumi yaitu Warung Kondang dimana terdapat pertigaan yang menuju Situs Gunung Padang. Jalur ini cukup lebar, datar dan mulus, kita bisa santai namun tetap harus berhati-hati karena banyak truk truk besar yang melintas. Setelah 10 km sampailah kami di papan penunjuk jalan menuju tujuan. Tertera disitu Situs Gunung Padang 20 km. Kebetulan didekatnya terdapat Indomart, sehingga kami bisa membeli perbekalan karena katanya setelah ini tidak ada toko lagi selain warung kecil. 

Tanya sana sini kepada tukang ojek disekitar pertigaan, katanya jalannya aspal cukup bagus, ada beberapa yang rusak tapi untuk sepeda tidak masalah. Perjalanan kami lanjutkan perlahan-lahan, cuaca cukup mendukung sehingga kami tidak merasa lapar dan akhirnya lupa makan siang!…tidak ada rumah makan disepanjang jalan ini, kalau untuk sekedar beli indomie mungkin ada. Awalnya selama 13 km pemandangan sangat membosankan hanya rumah penduduk sampai daerah stasiun Lampegan. Disini kami istirahat sejenak setelah mengayuh sepeda selama 1.5 jam sambil mencari warung untuk mengisi perut. Stasiun Lampegan hanya 1 km dari tempat kami istirahat, maunya kesana tapi akhirnya kami tunda nanti saja pulangnya, toh akan melewati daerah ini lagi. Dari jalan utama menuju Situs Gunung Padang didaerah ini seperti huruf S, kalau terus kita menuju stasiun. 

Perjalanan kami lanjutkan lagi, masih 7km menuju tujuan, jalan mulai menanjak halus dan agak berkelok dengan kanan kiri kebun teh. Alhamdulillah akhirnya dapat juga pemandangan yang lumayan, semakin lama semakin tinggi namun masih bisa digowes walaupun dengan sedikit termehek-mehek. Tepat pukul 14 sampailah kami di gapura Situs Gunung Padang, perjalanan kesini memerlukan waktu sekitar 1.5 jam dari Lampegan. Bagi yang membawa mobil, harus parkir disini dan disediakan tempat parkir yang cukup luas. Setelah foto-foto di gapura, perjalanan kami lanjutkan sekitar 500 m dengan tanjakan-tanjakan terakhir yang lumayan terjal.

Akhirnya sampailah kami di area parkir motor dan tempat beli karcis untuk masuk ke Situs, disini juga terdapat beberapa warung untuk makan sekadarnya.  Sepeda kami titipkan di warung, setelah membeli karcis seharga 5000 rupiah, kami siap untuk menaiki tangga menuju situs. Ada 2 pilihan, pilihan pertama melalui 300 anak tangga yg agak lebih landai atau pilihan kedua melalui 170 anak tangga yang lebih curam. Karena kaki sudah capek, kami putuskan melalui yang 300 anak tangga saja walaupun agak lama sedikit. Ternyata setelah 15 menit kami sudah sampai di hamparan batu-batu besar yang tidak beraturan bentuk, ukuran dan susunannya…luar biasa!!…inilah yang disebut Situs Megalitikum Gunung Padang…akhirnya setelah menunggu kesempatan selama 5 tahun, saya bisa kesini juga. Saya tidak bisa banyak berjalan lagi, kaki sudah capek…bahkan rasanya lebih capek menaiki 300 anak tangga daripada mengayuh ditanjakan. 

Setelah foto-foto disana sini sekitar 30 menit, kami bersiap untuk kembali pulang. Untuk perjalanan pulang kami sudah siapkan mobil, karena berdasarkan info yang kami dapat, perjalanan dengan gowes pergi pulang sangat melelahkan. Dan ternyata betul, dalam perjalanan pulang turun hujan lebat sepanjang jalan dari Cianjur sampai Bogor. Tadinya kami rencanakan gowes lagi dari Puncak sampai Bogor apabila terjebak kemacetan namun karena lalulintas lancar, kami tetap menggunakan mobil.

Alhamdulillah keinginan untuk melihat Situs Gunung Padang tercapai sudah, perjalananpun kami lalui dengan aman terkendali. K

12
Okt
16

Gowes ke RancakalongĀ 

Hari minggu 2 Oktober 2016, cuaca agak mendung di jatinangor, bingung mau ngapain ?…akhirnya keluarkan sepeda dan gowes kearah Tanjungsari Sumedang, rute datar sekitar 6 km namun rame dengan truk dan bus. Tidak jauh setelah pasar Tanjungsari, saya melihat papan penunjuk kearah Rancakalong…daerah apa ini ya ?…rasanya saya saya pernah dengar.  Saya putuskan mengikuti arah jalan tersebut yang menanjak halus dan panjang. Ternyata saya sampai didaerah yang akan menjadi jalan tol Cisumdawu…Cileunyi Sumedang Dawuan. Saya ikuti jalan tersebut namun melalui jalan lama, tampaknya masih lama selesainya karena masih sepotong sepotong jalurnya. Tetapi kalau nanti selesai, mungkin akan banyak mengirit waktu untuk menuju arah Sumedang, Tasik, Garut dan sekitarnya.

Karena saya tidak tau jalan, saya coba tanya ke penduduk, gimana caranya saya kalau mau kearah Ujungberung/Cibiru. Pada umumnya mereka menjawab kembali lagi ke Tanjungsari lewat jalan raya, tetapi saya nggak mau lewat jalan itu lagi. Kata mereka ada jalan tapi aspal jelek dan nanjak, terus ke bukit Manglayang dan turun di Cibiru. 

Akhirnya dengan banyak bertanya malu dijalan, saya teruskan perjalanan.. sampai akhirnya ada seorang bapak yang saya cukup jelas infonya, saya harus mencari daerah talang kemudian belok kiri cari daerah Cijambu, terus lagi cari desa Pesanggrahan kemudian bukit Manglayang. Ternyata jalurnya memang benar, menanjak terus, aspal rusak, jarang penduduk krn daerah hutan dan dipinggir kanan ada jurang yang cukup dalam. Saya hanya bertemu dengan orang yang sedang menebang pohon dihutan tersebut. Sampai sini sudah tidak mungkin untuk kembali, saya teruskan perjalanan dengan berdoa dan cepat mencapai pemukiman. Akhirnya saya menemukan jalan desa yang sudah di beton bagus dan menurun terus yang berakhir di desa Cijambu. Desa ini cukup terpencil, dikelilingi pohon pinus krn memang disini terdapat pembibitan pohon pinus, ternyata juga terdapat bumi perkemahan.

Perjalanan saya lanjutkan lagi melalui jalan aspal rusak menanjak dan berakhir di desa Pesanggrahan. Disini kabut sudah mulai turun. Di balai desa saya menanyakan rute ke bukit Manglayang, namun saya disarankan untuk tidak kesana sendirian, karena menembus hutan, kabut dan licin. Disarankan untuk pulang lewat Tanjungsari saja melalui jalan didepan desa yang menurun tajam. 

Akhirnya saya ikuti saran mereka, pulang melalui desa Pesanggrahan, desa Mariuk sampai ke Tanjungsari, dengan diiringi hujan lebat saya sampai kembali di Jatinangor..Alhamdulillah perjalanan aman terkendali walaupun sambil banyak bertanya. 

11
Mei
16

Penangkaran Elang Loji, Bogor

Agustus 2015, saya mencoba kembali gowes ke Penangkaran Elang didaerah Loji Bogor. Perjalanan kali ini bersama Chandra yang belum pernah kesana dan start dari McD Paledang. Melalui jalan Bondongan-Cipaku-Rancamaya belakang, sampailah kami didaerah Warso, yang terkenal dengan kebun duriannya. Setelah beristirahat sebentar perjalanan kami lanjutkan melalui jalan raya cijeruk yang kearah Cigombong. Jalan aspal mulus tapi menanjak terus namun tidak ada yang terjal. Dari Warso ada belokan pertama ke kanan, jalur ini menuju Embrio, kami lanjutkan lagi mencari belokan kedua didaerah Loji. Jalan masih tetap aspal mulus sampai warung terakhir dan kami beristirahat lagi disini.

Perjalanan dilanjutkan kembali melalui jalan makadam dan memasuki daerah penangkaran jalan makadam bercampur tanah karena menuju hutan.  Terdapat kantor suaka margasatwa penangkaran elang dimana kami mengisi buku tamu dan bisa berfoto bersama baliho elang yang ada di hutan ini. Dari sini sepeda harus dituntun karena jalur sempit dan berbatu kearah jembatan gantung. Melalui jembatan ini kita bisa menuju hutan dan katanya ada air terjun, namun kami tidak kesana karena sepeda harus dituntun terus menembus hutan. 

Setelah foto2 didaerah jembatan gantung dan sekitarnya, kami pulang melalui jalan offroad kearah embrio.

Alhamdulillah siang hari kami sudah sampai kembali di McD Paledang setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 52 km pulang pergi. 

04
Mei
16

Gowes ke Tangkuban Parahu

September 2015, sambil menunggu anak yang sedang menjalani kegiatan kampus didaerah Lembang, saya mencoba gowes ke Tangkuban Parahu. 

Seingat saya, waktu kecil saya pernah diajak oleh orangtua kesini, setelah itu  tidak pernah lagi, padahal saya melanjutkan sekolah di Bandung dan beberapa kali ke Bandung bersama keluarga. Perjalanan dimulai dari sebuah guest house di daerah pasar Lembang. Saya tidak tahu akan menempuh jarak berapa km dan berapa lama dan tidak mencari tahu, karena saya tahu perjalanan ini akan lama karena rutenya menanjak terus. Cuaca bulan September cukup terik sehingga beberapa kali berhenti karena sangat haus dan kepanasan. Sampai daerah Cikole kaki mulai kram, dari Lembang ke Cikole rute terus menanjak melalui jalan hot mix yang cukup padat lalulintasnya karena weekend. Diujung jalan yang menuju Cikole Jayagiri Resort terdapat bebeapa warung, saya berhenti karena kedua kaki rasanya sudah mau kram lagi. Setelah minum dan cukup istirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali sampai pintu gerbang Tangkuban Parahu. Kembali saya berhenti karena perut sudah lapar dan sudah tengah hari. Sambil makan saya akhirnya bertanya kepada si ibu warung, berapa jauh lagi ke Tangkuban Parahu, karena rasanya sudah putus asa juga dengan tanjakan yang nggak ada habisnya dan cuaca panas terik. Katanya sih sekitar 4 km tapi lebih nanjak lagi, tapi lebih adem koq katanya lagi, banyak pohon dikanan kiri dan jalannya belak belok jadi nggak terlalu terjal tanjakannya. Akhirnya saya lanjutkan perjalanan dengan perlahan, karena dipikir-pikir percuma saja kalau hanya sampai disini. Rute memang lebih adem dan banyak tikungan seperti didaerah Gn Mas Puncak, jalan cukup lebar namun yang lewat banyak bus wisata yang juga menyita jalan. Akhirnya sekitar jam 13.30 sampai juga saya dengan termehek-mehek di kawah Tangkuban Parahu.

Ingin rasanya saya mengeksplor lebih jauh lagi dikawasan ini, tapi kaki sudah nggak kuat, ditambah panas terik, sehingga saya hanya foto-foto didaerah bunderan.

Alhamdulillah akhirnya saya bisa tahu yang namanya Tangkuban Parahu dengan bersepeda, tahu jalurnya yang menanjak terus sekitar 15 km dari Lembang dan menguras tenaga, namun semua terbayar dengan keindahan kawahnya. 

02
Mei
16

Paseban Megamendung…lagii !

Tidak bosan2nya saya kedaerah ini walaupun tanjakannya cukup berat, tetapi itulah tantangannya.

Akhir bulan April 2016, seperti biasa perjalanan dimulai dari rumah  pukul 07.30 kearah katulampa, menyusuri jalan tol sampai jembatan gadog. Kali ini saya mengajak Handoko yang belum pernah kesana dan penasaran dengan tanjakannya yang aduhai. Istirahat pertama diwarung depan Pusdik Reskrim Megamendung untuk sarapan, kemudian dilanjutkan dengan menghadapi cobaan pertama, tanjakan Bank Mega ! Disini kami agak kagok pada waktu menanjak, karena pada saat yang sama juga ada mobil yang mau nanjak dan ada yang mau turun, akhirnya terpaksa sepeda kami tuntun. Entah mengapa hari sabtu ini lalu lintas ramai dengan mobil, sehingga beberapa kali kami agak kagok waktu menanjak dan diikuti oleh mobil, karena jalannya juga tidak terlalu lebar. 

Tidak sampai 1 jam sampailah kami di Curug Panjang di ketinggian 991 mdpl (meter diatas permukaan laut). Seperti biasa kami tidak berhenti, hanya mengambil jalan pintas menuju jalur semen Paseban.

Sampailah kami dijalur semen ganda, kata Handoko ngeliatnya aja udah mual rasanya hahaha.. Tanjakan pertama dan kedua berhasil kami lewati dengan susah payah diketinggian 1018 mdpl. Kami berhenti sebentar untuk mengatur nafas menuju tanjakan ketiga dan terakhir, yang merupakan tanjakan legendaris karena lurus dan terjal. Akhirnya dengan termehek-mehek kami bisa melewati tanjakan ini dan langsung lempar sepeda karena tenaga sudah nggak karu-karuan rasanya, jantung serasa mau copot, ketinggian menunjukkan angka 1055 mdpl, pdahal jaraknya hanya sekitar 50 meter. 

Setelah tanjakan ini, tidak ada lagi tanjakan yang terjal, tetapi tenaga sudah cukup terkuras di 3 tanjakan sebelumnya, sehingga nanjak sedikit saja sudah berat rasanya. Setelah melewati pintu gerbang Curug Cibulao dan vila milik Fadli Zon, sampailah kami dilapangan Paseban di ketinggian 1160 mdpl. Waktu menunjukkan pukul 11.30, kami langsung menuju warung untuk beristirahat.

Alhamdulillah perjalanan kali ini lebih cepat dari sebelumnya, sekitar 4 jam dari rumah, termasuk makan dan foto-foto.