29
Mei
17

Gowes ke Puncak Eurad 

Tertarik dengan posting om Arief Isa dkk yang sedang berfoto ria di Puncak Eurad, saya mencoba googling dimanakah letak tempat tersebut. Ternyata yang saya dapatkan semua harus melalui jalur offroad yang selama ini saya hindari. Akhirnya saya janjian sama om Arief Isa untuk bertemu di daerah antara Lembang dan Maribaya dan kita akan gowes bersama kesana. 

Sabtu pada bulan Mei  2017 jam 5 pagi saya bersama sopir berangkat dari Bogor menuju Lembang Bandung lewat Subang dengan harapan bisa sampai lebih cepat. Ternyata banyak sekali halangannya, setelah kota Subang kita dapatkan jalan menanjak terus kadang disertai tikungan, sehingga bila didepan kita ada mobil truk atau bus, perjalanan kita menjadi terhambat. Setelah Tangkuban Parahu baru trafik agak lancar menuju Lembang. Akhirnya kita sampai Lembang kota sekitar jam 10.30, sudah termasuk sarapan di Subang. Kalau kita berangkat jam 5.00 pagi dari Bogor lewat tol Cipularang dan lewat kota Bandung, mgk jam 8 kita sdh sampai Lembang !. Satu pelajaran buat saya apabila kedaerah Lembang lagi. 

Karena sudah sangat terlambat, om Arief dkk sudah melewati rencana titik kumpul dan jam 9 beliau dkk sudah mendahului. Namun saya diberi petunjuk, gowes saja kearah sespimpol, lewat lagi sedikit nanti  cari jalan Ciputri, belok kiri ikuti jalan tersebut. Saya ikuti petunjuk tersebut dan sampailah saya diperempatan jalan Ciputri, yang kekiri arah Puncak Eurad, arah terus ke Maribaya, arah kanan ke Dago lewat Pra Mestha Resort. 

Saya ikuti jalan yang kekiri sambil tanya sana sini jalan yang kearah tujuan. Ternyata didepan masih ada pertigaan dan kita harus ambil arah kanan yang menurun. Setelah ini mulailah jalan agak menanjak halus dan panjang. Sampailah disuatu desa lupa namanya, saya membeli air minum sambil istirahat. Saya tanya lagi yang namanya Puncak Eurad, masih jauuh kata si ibu warung dan nanjak teruus. Hadeuuh, putus asa rasanya, hari sudah siang tapi sudah terlanjur sampai Lembang, pantang pulang ! Saya teruskan perjalanan, didepan ada pertigaan lagi, kita ambil arah kiri selanjutnya luruus terus ikuti jalan aspal, begitu petunjuk penduduk desa terakhir. 

Sambil termehek-mehek menanjak, saya lihat ada beberapa goweser istirahat di warung, saya tanya apakah ini rombongan pak Arief Isa ?…ooh beliau dkk sudah didepan dari tadi katanya. Okelah saya nggak mampir deh, takut nggak ketemu sama om Arief Isa…tolong sampaikan salam dari Tim Itikurih ya, dari teh Ina, tinggal 2 tanjakan lagi koq…begitu kata mereka ketika saya melanjutkan gowes. Didepan sudah menghadang tanjakan yang bikin nyali menciut, tapi masih bisa dihadapi. Tapi kenapa sudah lebih dari 2 tanjakan koq masih belum sampai juga ya ? . Akhirnya saya berpapasan dengan beberapa goweser yang sedang turun dan ternyata diantaranya adalah om Arief Isa ! Mungkin saya sudah ditunggu lama, akhirnya mereka pulang lebih dahulu. Disini kami sempat berfoto dulu…tenaang nggak jauh lagi paling tinggal 2 – 3 kelokan lagi sampai, jangan lupa nanti ada umbul umbul ambil arah kiri, kalau ke kanan sampai ke Subang….begitu kata om Arief Isa sebelum berpisah. Perjalanan saya teruskan lagi, jalan masih nanjak halus dan berkelok-kelok, ini sudah lebih dari 3 kelokan koq belum keliatan juga umbul umbulnya ?. Akhirnya saya baru sadar dan ingat kata teman teman : DON’T TRUST BIKERS !  Dengan sabar saya ikuti terus jalan aspal yang mulai terkelupas batu batunya dan bikin ban suka selip, dan ketemulah itu umbul umbul. Disini saya sempat berpose sejenak sebelum menuju arah warung. Cukup sekali saja sebagai penanda SELAMAT DATANG DI WISATA PUNCAK ERAD … Erad…Eurad… Terserahlah pokoknya saya sudah sampai….horee ! 

Ternyata benar kata om Arief, disini masih ada beberapa teman yang sedang bersiap siap untuk turun. Saya langsung menuju warung dan pesan bandrek susu, cukup segar untuk mengatasi rasa lelah diperjalanan tadi. Tidak lama datanglah Tim Itikurih yang tadi bertemu di warung, dan ternyata salah satunya adalah kang Dadang Herina, yang sudah saya kenal 4 tahun yang lalu ketika ke Bogor bersama om Arief Isa. Perbincanganpun menjadi semakin akrab, mengenang nostalgia menaklukan 3 bukit di Bogor. Senang sekali bertemu dengan mereka, mendapat teman baru yang ramah, baik hati dan rendah hati, diantaranya teh Ina Sadeli, pak Wahyu, bu Puji dan lain lain yang saya lupa namanya. Ternyata di warung tersebut bisa pesan nasi merah beserta ayam dan sambel lalab, sayang saya sudah kenyang makan di Subang. 

Setelah cukup ngobrol dan berfoto ria, akhirnya sekitar jam 13.00 kita pulang melalui jalan Ciputri-Pra Mestha Resort -Dago Bengkok 2, dan kita berpisah di simpang Dago, karena saya melanjutkan perjalanan ke Jatinangor. 

Akhirnya terjawab sudah yang namanya Puncak Eurad, terletak sekitar 15 km dari Kota Lembang kearah Maribaya demgan ketinggian 1400 mdpl. Daerah ini baru dibuka untuk memperlancar distribusi hasil kebun dari Subang ke Lembang dan sebaliknya, sebelum ada jalan ini, jalur distribusi hasil kebun harus melalui jalur utama Tangkuban Parahu. 

Alhamdulillah jam 17.00 akhirnya saya sampai di kosan anak saya di Jatinangor setelah menempuh jarak 45 km dari Puncak Eurad melewati keruwetan di Gasibu,  Cicaheum,  Ujungberung, Cibiru, Cinunuk dan Cileunyi di hari Sabtu. 

25
Jan
17

Gowes Tourdezerotozero2107..Bogor-Bandung kedua.

Seperti yang telah direncanakan jauh hari, beberapa petinggi komunitas polisi bersepeda di bogor ( robocop ) yang dimotori oleh bpk mayor polisi arif gunawan, berkumpul bersama petinggi gowel bogor dan komunitas bersepeda lainnya se jabodetabek untuk menyelenggarakan event kedua gowes bogor ke bandung dengan tema : tourzerotozero2017 atau 020.

Ternyata animonya sangat membludak melebihi 200 peserta (dibandingkan tahun lalu hanya sekitar 100 peserta ), bahkan pada penutupan pendaftaran akhir mencapai 300 peserta. Belum lagi yang ikut sebagai romli ( rombongan liar )  yang tidak terdaftar pada panitia. Akhirnya diputuskan untuk membagi peserta menjadi beberapa komunitas, antara lain : gowel bogor, lintas, romli, gnf dll sehingga tanggungjawab dapat diserahkan sebagian kepada mereka. Panitia tetap menyediakan mobil utk evac dan ambulans, namun para komunitas diharapkan juga menyiapkannya. 

Sesuai rundown acara, kita sudah berkumpul di balaikota bogor pukul 5 pagi, untuk menyiapkan sepeda masing masing, dan ada yg sarapan disekitar lokasi. Pukul 5.30 dimulai penjelasan mengenai rute dari panitia , diikuti sambutan dari kapolresta bogor dan walikota bogor sekaligus melepas peserta pada pukul 6.15.

Rute dimulai melingkari istana bogor menuju arah jl pajajaran langsung ke ciawi dan gadog. Kepadatan sudah terlihat dari arah gadog namun hanya sebentar dan jalan kembali sepi menuju megamendung. Cuaca hari ini cukup panas, sehingga beberapa peserta mulai tampak di evak sampai cisarua. Mulai dari cisarua, peserta mulai terpisah berdasarkan kecepatan masing masing. Pukul 11 kami sampai di lokasi regrouping  pertama di pos polisi puncak pass, namun sebagian ada yang mampir di mang ade untuk sarapan termasuk saya. Kelompok terdepan sudah melanjutkan lebih dahulu menuju lokasi regrouping kedua di rumah makan empat dara di cianjur. Setelah cukup istirahat kami lanjutkan perjalanan menuju cianjur dan sanpai dilokasi sekitar pukul 13.oo. Disini kami melakukan istirahat sambil minum es kelapa, ada yang makan siang sekaligus sholat lohor.

Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan tujuan regrouping di jembatan rajamandala. Jalan cukup datar sehingga kami dapat meningkatkan kecepatan, namun cuaca panas sangat menguras tenaga. Ada beberapa teman yang mengalami kram sehingga kami harus berhenti sebentar kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Saya sendiri mengalami sakit sekali didaerah bahu kanan, sehingga terpaksa beberapa kali berhenti dan saya minta teman teman tetap melanjutkan saja tapi tunggu saya di rajamandala. Dengan susah payah akhirnya saya dapat mencapai rajamandala pukul 17 dan sempat mendapat perawatan dari titi, fisioterapis bmc yang sengaja saya ajak, siapa tau ada yang bisa  dibantu. Alhamdulillah perjalanan dapat saya lanjutkan lagi tapi saya tetap dibelakang agar tidak menghambat teman teman yang lebih cepat. Penderitaan mulai terjadi setelah cipatat, kita mulai meliuk-liuk didaerah citatah sekitar magrib dan cuaca mulai gelap. Beberapa kali saya harus berhenti untuk meredakan sakit di bahu kanan  saya. Sebetulnya ada mang okky gowel bogor yang selalu mengikuti kita yang ternyata semuanya gowel bogor, dan siap mengevac, tapi rasanya saya masih mampu walaupun lambat.

Dengan menahan sakit ditambah hujan mulai turun saya tetap melanjutkan perjalanan ditanjakan citatah hanya bertiga, om fajar dan temannya. Mendekati situ ciburuy, teman om fajar katanya sudah mengalami halusinasi sehingga minta di evac saja, sementara om fajar akan tetap mendampingi saya, walaupun saya suruh duluan tetap tidak mau, terimakasih buat om fajar ! 

Akhirnya setelah terseok-seok, sampai juga saya di situ ciburuy pukul 19.00 dan beberapa teman sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke bandung…saya sampai right on time, karena mereka semua ternyata peserta gowel bogor dan hanya menunggu saya. Disana sudah menunggu antara lain om tutun, om audy, mas yusa, pakde rio, mang ncas, mang doddy dll yang saya tidak ingat satu persatu dan setelah berhitung ternyata berjumlah 17 orang. 

Perjalanan dilanjutkan bersama dalam keadaan cuaca gerimis, awalnya saya bertindak sebagai tour leader karena dianggap yang tau bandung, didaerah cimahi saya mengundurkan diri digantikan oleh om audy dan om tutun karena kecepatan saya mulai menurun. Om okky dengan mobilnya tetap siap dibelakang untuk mengevac.

Akhirnya pukul 21 kami sampai di lokasi finish gedung binamarga jl asia afrika. Ternyata hal ini sama dengan perjalanan tahun lalu, kami finish disini pukul 21. Namun kelompok depan sudah finish duluan pukul 18.30. Setelah bersilaturahmi dengan teman teman bandung dan saya sempat bertemu dengan sohib saya om arief isa, setelah minum dan makan snack, akhirnya kami berpisah menuju tempat menginap masing masing.

Alhamdulillah tour bogor-bandung berjalan aman terkendali walaupun lambat tidak sesuai dengan acara. Ini adalah perjalanan bersepeda saya dari bogor ke bandung yang kelima, semoga masih diberi kekuatan untuk perjalanan berikutnya. Terimakasih kepada teman teman gowel bogor yang dengan sabar menunggu saya dan finish bersama di bandung. 

20
Jan
17

Gowes Jatinangor-Nagreg-Cijapati-Jatinangor

Berawal dari dua kali gowes jatinangor-cijapati-nagrek-jatinangor…saya ingin mencoba bagaimana ya kalau dibalik?…pasti di tanjakan kopi bakalan termehek-mehek.

Berangkat pukul 8 pagi dari jatinangor menuju nagreg, ternyata trafiknya sudah padat, mungkin banyak yang liburan kearah garut/tasik. Jalan raya cicalengka sudah sedemikian lebarnya masih saja saya hampir keserempet mobil elf yang ngebut dilajur kiri. Rute ini tidak terlalu berat, menanjak halus namun banyak kendaraan mungkin karena hari libur juga. Sampai Nagreg kita disuguhi turunan yang sangat curam, terbayang bagimana ya kalau dibalik seperti dulu, belum ada jalan lingkar nagreg.

Sampai nagreg pukul 9.30 saya istirahat sebentar sambil menikmati jembatan yang sangat berguna bagi kita yang menuju bandung dari garut atau tasik. Tidak ada lagi tanjakan curam, namun harus sedikit melingkar menuju cicalengka. Perjalanan saya lanjutkan melalui jalan yang mulus menuju kadungora. Disinilah terdapat pertigaan menuju cijapati lanjut cicalengka. Setelah gowes sekitar 4 km, mulailah kita disuguhi tanjakan kopi yang tidak ada habisnya, sesuai dengan namanya…tanjakan ini pahit sekali !! Sepanjang 6 km ada sekitar 6 tanjakan yang lumayan dan membuat saya tidak malu malu untuk turun beristirahat atau menuntun sepeda. Luar biasa, belum pernah saya dapatkan tanjakan seperti ini di bogor.

Akhirnya pukul 12 baru saya bisa mencapai ujung tanjakan cijapati, banyak terdapat warung dikiri jalan, dimana kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan yang indah dikejauhan. Tidak bosan bosannya saya kedaerah ini, jalurnya tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi, tapi untuk melalui tanjakan kopi saya rasa cukup sekali sajalah. Hampir 1 jam saya beristirahat disini karena tenaga sangat terkuras, sambil makan indomi, minum kelapa muda dan foto2. Perjalanan pulang sangat menyenangkan karena turun teruus sampai cicalengka dan datar sampai jatinangor. Alhamdulillah perjalanan solo sekitar 64 km berjalan dengan aman terkendali. 

20
Jan
17

Gowes Bogor – Bandung

Agustus 2016 saya mendapat undangan dari om Arif Isa dkk dari bandung yang mengadakan bike camping di cibodas. Saat itu saya menyanggupi utk hadir, ternyata bersamaan dengan jadwal saya menengok anak di jatinangor. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat gowes ke bandung tapi mampir dulu ke cibodas. 

Pukul 5 pagi saya sudah start dari bogor, dengan harapan sore sudah bisa masuk bandung, belum lagi harus ke cibodas dulu. Perjalanan gowes ke puncak pagi hari ternyata enak sekali, jalan sepii…iyalah, hari itu cuma saya kayaknya yang gowes ke puncak. Untuk menghemat waktu, saya nggak mampir di mang ade, bablas aja ke cibodas. Karena saya belum pernah kesana, saya ikuti saja papan penunjuk arah menuju bike camp cibodas, dan ternyata ampuun nanjak terus sepanjang 5 km dari jalan raya cipanas. Tetapi semua lelah hilang sirna setelah bertemu sesepuh goweser bandung : om arif isa, om rizky sutriadi dkk, bahkan kita sempat sarapan bareng ala turinger. Saya tidak berlama-lama disini karena perjalanan masih jauh. 

Sekitar pukul 10 saya meneruskan perjalanan ke cianjur, jalan cenderung menurun terus dan jam 11 saya sudah sampai kota. Perjalanan saya teruskan karena cenderung datar sehingga bisa gowes agak cepat. Saya sengaja memakai ban kecil maxxlite 285 yang sangat ringan khusus untuk onroad. Malapetaka mulai terjadi kira2 5 km sebelum jembatan rajamandala, ban belakang bocor sewaktu memasuki daerah bahu jalan berbatu tajam. Dengan yakin saya menepi untuk mengganti ban dalam, dan ternyata ban dalam yang saya bawa utk ukuran 29 ! Akhirnya saya mencari tukang tambal, beruntung tidak jauh saya menuntun sepeda dipanas terik. Disini saya baru tahu bahwa bukan hanya ban dalam saja yang bocor, tapi ban luarnya juga agak sobek. Karena tidak mungkin cari ban sepeda, akhirnya ban dalam ditambal dan ban luar diperkuat bagian yang robek. 

Perjalanan saya lanjutkan lagi, cuaca sangat panas, sekitar jam 12.30 saya sampai jembatan rajamandala. Disini saya istirahat agak lama, panas dan lapar terobati dengan es cingcau dan mie baso. Setelah cukup, perjalanan saya lanjutkan lagi dan jalan masih mulus mendatar namun ramai kendaraan, pukul 13 lebih saya sampai cipatat. Disini saya beristirahat lagi karena tidak tahan dengan cuaca yang panas. Sempat bertemu dengan bbrp teman yang juga akan ke bandung dan ternyata juga start dari bogor/gadog. Saya berangkat duluan untuk mengejar waktu jangan sampai gelap tiba di bandung. Malapetaka kembali terjadi, ban belakang kempes lagi ditikungan berkelok-kelok di citatah. Lagi lagi masih ada keberuntungan, dekat tukang tambal ban dan masih bisa ditambal, namun mamang tukang tambal wanti2 agar berhati-hati karena ban luar sudah tipis. Perjalanan saya lanjutkan lagi dan pukul 15.30 sampai di situ ciburuy. Disini saya kembali berhenti untuk melepas lelah dengan minum es kelapa muda. Perjalanan saya lanjutkan lagi menuju cimahi. Saya merasakan sesuatu yang aneh pada ban belakang, rasanya putaran ban tidak rata, mungkin didaerah yang robek tadi. 

Akhirnya sebelum sampai cimahi saya putuskan untuk loading saja daripada kena masalah ban lagi. Keberuntungan masih ada…taksi blue bird lewat, langsung saja saya stop dan minta diantar ke jatinangor, kosan anak saya. Alhamdulillah akhirnya pukul 17 saya sampai jatinangor dengan selamat.   Perjalanan bogor-bandung ke 4 kali sepanjang kurang lebih 134 km berjalan aman terkendali walaupun terkendala ban. 

20
Jan
17

Gowes ke Tangkuban Parahu

September 2015, sambil menunggu anak yang sedang menjalani kegiatan kampus didaerah Lembang, saya mencoba gowes ke Tangkuban Parahu. 

Seingat saya, waktu kecil saya pernah diajak oleh orangtua kesini, setelah itu  tidak pernah lagi, padahal saya melanjutkan sekolah di Bandung dan beberapa kali ke Bandung bersama keluarga. Perjalanan dimulai dari sebuah guest house di daerah pasar Lembang. Saya tidak tahu akan menempuh jarak berapa km dan berapa lama dan tidak mencari tahu, karena saya tahu perjalanan ini akan lama karena rutenya menanjak terus. Cuaca bulan September cukup terik sehingga beberapa kali berhenti karena sangat haus dan kepanasan. Sampai daerah Cikole kaki mulai kram, dari Lembang ke Cikole rute terus menanjak melalui jalan hot mix yang cukup padat lalulintasnya karena weekend. Diujung jalan yang menuju Cikole Jayagiri Resort terdapat bebeapa warung, saya berhenti karena kedua kaki rasanya sudah mau kram lagi. Setelah minum dan cukup istirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali sampai pintu gerbang Tangkuban Parahu. Kembali saya berhenti karena perut sudah lapar dan sudah tengah hari. Sambil makan saya akhirnya bertanya kepada si ibu warung, berapa jauh lagi ke Tangkuban Parahu, karena rasanya sudah putus asa juga dengan tanjakan yang nggak ada habisnya dan cuaca panas terik. Katanya sih sekitar 4 km tapi lebih nanjak lagi, tapi lebih adem koq katanya lagi, banyak pohon dikanan kiri dan jalannya belak belok jadi nggak terlalu terjal tanjakannya. Akhirnya saya lanjutkan perjalanan dengan perlahan, karena dipikir-pikir percuma saja kalau hanya sampai disini. Rute memang lebih adem dan banyak tikungan seperti didaerah Gn Mas Puncak, jalan cukup lebar namun yang lewat banyak bus wisata yang juga menyita jalan. Akhirnya sekitar jam 13.30 sampai juga saya dengan termehek-mehek di kawah Tangkuban Parahu.

Ingin rasanya saya mengeksplor lebih jauh lagi dikawasan ini, tapi kaki sudah nggak kuat, ditambah panas terik, sehingga saya hanya foto-foto didaerah bunderan.

Alhamdulillah akhirnya saya bisa tahu yang namanya Tangkuban Parahu dengan bersepeda, tahu jalurnya yang menanjak terus sekitar 15 km dari Lembang dan menguras tenaga, namun semua terbayar dengan keindahan kawahnya. 

20
Jan
17

Gowes Jatinangor-Kamojang-Jatinangor

April 2016, kembali gowes solo kali ini menuju Kamojang yang belum pernah saya tahu. Hanya berbekal googling dan membaca blognya teman yang pernah kesana, saya memberanikan diri untuk gowes sendiri.

Karena memang tidak direncanakan sebelumnya, alias galau mau gowes kemana, akhirnya saya baru berangkat dari jatinangor pukul 8 pagi. Cuaca cukup cerah, saya menyusur jalan raya rancaekek menuju arah majalaya. Jalan cenderung mendatar sepanjang kurang lebih 20km namun harus hati2 karena disana banyak delman dan banyak kotoran kuda. Pukul 9.30 saya sampai di sekitar pasar majalaya, setelah tanya sana sini akhirnya saya diarahkan untuk belok kiri melewati pertokoan dan nanti ada papan penunjuk arah kekanan menuju desa ibun. Karena belum sempat sarapan, saya sempatkan makan kupat tahu dulu disini sambil ngobrol sama si mamang tentang rute kearah kamojang. Setelah cukup kenyang dan istirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali, awalnya sih datar datar saja sepanjang 5 km kemudian menanjak halus dan menanjaaak terus sepanjang 5 km sampai jembatan kuning kamojang ( KAMOJANG HILL BRIDGE ). 

Dalam perjalanan sepanjang 5 km tersebut saya mulai putus asa, karena tidak tahu sampai mana nih nanjaknya dan beberapa kali berhenti karena tanjakannya walaupun ada yang tidak begitu curam tetapi panjang dan menguras tenaga. Beruntung saya bertemu dengan beberapa goweser yang juga mau kearah kamojang, sambil istirahat di warung saya bisa mencari informasi. Akhirnya saya sampai juga di kawasan kamojang, dan ternyata sudah dibangun jalan lintas kamojang dengan jembatan kuningnya. Hampir 1 jam saya beristirahat di warung didekat jembatan sambil foto foto disekitar jembatan. 

Dari sini menuju menuju PLTP kamojang/PT Indonesia Power ada 2 jalur, pertama melalui TANJAKAN MONTENG yang sangat legendaris dan aduhai pedasnya kata teman teman bandung, atau jalur baru lingkar kamojang atau dikenal dengan nama JALUR LINGKAR CUKANG MONTENG. Karena saya yakin tidak akan kuat dan baru pertama kali kesini, saya putuskan ikut jalan yang lebih sopan yaitu jalur lingkar saja dan ternyata teman teman bandung juga melewati jalur tersebut. Jembatan kuning ternyata menjadi tujuan wisata baik para goweser maupun pemotor. Banyak yang berselfie ria atau foto bersama di daerah jembatan ini…termasuk saya !

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan beton yang masih baru dan belum boleh dilewati mobil, karena belum ada rambu lalulintas, belum ada pembatas jalan sehingga kalau lengah kita bisa terperosok keluar jalur beton. Disini cuaca mulai panas dan hujan tidak jelas, pada saat kita memakai jas hujan, tidak lama hujan berhenti, akhirnya jas hujan harus dilepas karena tiba tiba cuaca panas. Saya melihat teman teman sudah banyak yang membuka baju pada saat melewati jalur beton ini. Ternyata disini kita masih terus menanjak sepanjang kurang lebih 5km, pemandangan tidak ada, hanya dikiri dan kanan ada pohon pinus. Dan celakanya tidak ada warung sepanjang 5km, mungkin karena masih sepi lalulintasnya. Disini saya mulai menghemat air minum, karena saya lupa tidak membeli diwarung terakhir sebelum jembatan. 

Akhirnya setelah mencapai puncak dari jalur beton, pada pukul 14 saya dapatkan jalan aspal yang menurun…bonus ! Menurun terus sampai PLTP KAMOJANG. masih juga belum ketemu warung, kebetulan ada tukang cireng lewat, habis langsung diserbu puluhan goweser yang kelaparan. Disni kita berfoto ria lagi dengan segala gaya didepan PLTP. Setelah cukup, perjalanan dilanjutkan lagi, tapi saya memilih pelan saja, karena ingin tahu ada apa saja disekitar sini. Dalam perjalanan menuju daerah samarang garut, banyak pemandangan yang cukup indah namun saya tidak bisa mengabadikan karena cuaca kurang bersahabat. Antara lain disini terdapat penangkaran elang dan kebun mawar, semuanya harus masuk kedalam lagi dan saya memang tidak bermaksud kesana. Secara kebetulan saya bertemu dengan kang Acep yang dulu tinggal di bogor, ternyata beliau gowes dari garut ke kamojang karena ingin bertemu dengan teman teman bandung. Akhirnya saya ditemani kang Acep gowes sampai samarang, dan kebetulan rumahnya memang didaerah tersebut. 

Dari samarang saya lanjutkan gowes ke kota garut, waktu sudah menunjukan pulul 17 sampai daerah bunderan. Disini mulai galau, karena kalau saya lanjutkan gowes ke jatinangor, saya tidak siap dengan lampu. Akhirnya saya putuskan untuk loading saja dan mencari mobil yang mau disewa ke jatinagor. Kebetulan didaerah bundaran ada pangkalan minibus carteran, dan saya minta diantarkan ke jatinangor.

Alhamdulillah, perjalanan gowes sejauh  52 km tanpa tahu arah menuju kamojang berjalan aman dan lancar, kemudian dilanjutkan dengan minibus yang juga  lancar, lalulintas tidak terlalu ramai dan pukul 18.30 saya sudah sampai jatinangor

20
Jan
17

Gowes ke Darajat Pass Garut

Sejak gowes ke kamojang garut dengan tanjakan yg aduhai bikin megap megap, saya bertambah penasaran karena menurut teman teman bandung, perjalanan kesana lebih jauh dan elevasi nya lebih tinggi serta banyak tempat wisata. 

Mei 2016 saya memulai perjalanan dari kota garut sekitar pukul 8.15 karena  berangkat dari jatinangor sudah pukul 7 kesiangan kemudian mobil saya titipkan dirumah teman. Sebelumnya saya googling terlebih dahulu karena saya tidak tahu arah ke puncak darajat. Patokan saya adalah kearah samarang, belokan pertama menuju ke kamojang, belokan kedua menuju puncak darajat. Jarak garut kota ke samarang sekitar 9km jalan datar dan tidak terlalu ramai. Saya mengikuti petunjuk di belokan kedua yang menuju puncak darajat, jalan mulai pelan pelan menanjak. Baru jalan 4 km saya sudah istirahat karena terasa lelah. Jalan menanjak halus dan panjang disertai panas terik, waktu menunjukan pukul 9.49 dengan elevasi sekitar 900mdpl, ketinggian kota garut sekitar 700 mdpl.

Setelah cukup istirahat, perjalanan saya lanjutkan walaupun masih panas terik. Jalan mulai semakin menanjak, 5 km kemudian saya berhenti lagi karena sudah merasa dehidrasi dan elevasi menunjukan 1200 mdpl. Perjalanan saya lanjutkan lagi dengan perlahan karena jalan mulai menyempit dan banyak mobil, motor maupun bus wisata besar yang menuju kawasan wisata. Jalan cukup halus karena katanya jalan tersebut dibuat oleh pengelola gas alam di kawasan kawah darajat. Beberapa kali saya harus berhenti mengalah dan kagok karena ada kendaraan yang antri waktu menanjak dan ada kendaraan yang harus jalan bergantian karena tikungan yang sempit.

Sekitar pukul 12 siang saya mulai memasuki kawasan darajat dan tak berapa lama terlihat tulisan DARAJAT PASS dikejauhan. Lagi lagi saya berhenti disini, elevasi menunjukkan 1400 mdpl. Karena tulisan sudah terlihat, saya semakin bersemangat untuk mencapai tempat yang ternyata masih jauuh dan nanjaknya ampuun. Akhirnya sekitar pukul 13 saya mencapai tulisan DARAJAT PASS di elevasi 1600mdpl yang ternyata suatu resort yang sangat luas dan merupakan resort terbesar dikawasan ini. Saya beristirahat di resort ini untuk makan siang seperti biasa indomie rebus. Setelah cari informasi, ternyata puncak darajat/kawah darajat masih sekitar 3 km lagi menanjak lebih curam lagi. Akhirnya saya putuskan untuk pulang saja karena langit makin mendung.

Sudah dapat diduga perjalanan pulang ke kota garut merupakan bonus, turun terus tanpa gowes sampai samarang. Alhamdulillah pukul 16 saya sudah sampai kota garut dalam cuaca gerimis. Selesai sudah perjalanan ke darajat pass pulang pergi sekitar 44 km dengan aman terkendali untuk melepas rasa penasaran saya. Saking capeknya saya sampai lupa untuk memotret pemandangan dan kebun  yang indah disekitar kawasan ini.

Perjalanan saya lanjutkan ke tempat anak di jatinangor dan pukul 18 saya sudah sampai ditempat kos. Setelah istirahat sebentar , saya menepati janji kepada anak saya untuk cari makan yang enak dan segar di paris van java….nyam nyam.