20
Jan
17

Gowes Jatinangor-Nagreg-Cijapati-Jatinangor

Berawal dari dua kali gowes jatinangor-cijapati-nagrek-jatinangor…saya ingin mencoba bagaimana ya kalau dibalik?…pasti di tanjakan kopi bakalan termehek-mehek.

Berangkat pukul 8 pagi dari jatinangor menuju nagreg, ternyata trafiknya sudah padat, mungkin banyak yang liburan kearah garut/tasik. Jalan raya cicalengka sudah sedemikian lebarnya masih saja saya hampir keserempet mobil elf yang ngebut dilajur kiri. Rute ini tidak terlalu berat, menanjak halus namun banyak kendaraan mungkin karena hari libur juga. Sampai Nagreg kita disuguhi turunan yang sangat curam, terbayang bagimana ya kalau dibalik seperti dulu, belum ada jalan lingkar nagreg.

Sampai nagreg pukul 9.30 saya istirahat sebentar sambil menikmati jembatan yang sangat berguna bagi kita yang menuju bandung dari garut atau tasik. Tidak ada lagi tanjakan curam, namun harus sedikit melingkar menuju cicalengka. Perjalanan saya lanjutkan melalui jalan yang mulus menuju kadungora. Disinilah terdapat pertigaan menuju cijapati lanjut cicalengka. Setelah gowes sekitar 4 km, mulailah kita disuguhi tanjakan kopi yang tidak ada habisnya, sesuai dengan namanya…tanjakan ini pahit sekali !! Sepanjang 6 km ada sekitar 6 tanjakan yang lumayan dan membuat saya tidak malu malu untuk turun beristirahat atau menuntun sepeda. Luar biasa, belum pernah saya dapatkan tanjakan seperti ini di bogor.

Akhirnya pukul 12 baru saya bisa mencapai ujung tanjakan cijapati, banyak terdapat warung dikiri jalan, dimana kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan yang indah dikejauhan. Tidak bosan bosannya saya kedaerah ini, jalurnya tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi, tapi untuk melalui tanjakan kopi saya rasa cukup sekali sajalah. Hampir 1 jam saya beristirahat disini karena tenaga sangat terkuras, sambil makan indomi, minum kelapa muda dan foto2. Perjalanan pulang sangat menyenangkan karena turun teruus sampai cicalengka dan datar sampai jatinangor. Alhamdulillah perjalanan solo sekitar 64 km berjalan dengan aman terkendali. 

20
Jan
17

Gowes Bogor – Bandung

Agustus 2016 saya mendapat undangan dari om Arif Isa dkk dari bandung yang mengadakan bike camping di cibodas. Saat itu saya menyanggupi utk hadir, ternyata bersamaan dengan jadwal saya menengok anak di jatinangor. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat gowes ke bandung tapi mampir dulu ke cibodas. 

Pukul 5 pagi saya sudah start dari bogor, dengan harapan sore sudah bisa masuk bandung, belum lagi harus ke cibodas dulu. Perjalanan gowes ke puncak pagi hari ternyata enak sekali, jalan sepii…iyalah, hari itu cuma saya kayaknya yang gowes ke puncak. Untuk menghemat waktu, saya nggak mampir di mang ade, bablas aja ke cibodas. Karena saya belum pernah kesana, saya ikuti saja papan penunjuk arah menuju bike camp cibodas, dan ternyata ampuun nanjak terus sepanjang 5 km dari jalan raya cipanas. Tetapi semua lelah hilang sirna setelah bertemu sesepuh goweser bandung : om arif isa, om rizky sutriadi dkk, bahkan kita sempat sarapan bareng ala turinger. Saya tidak berlama-lama disini karena perjalanan masih jauh. 

Sekitar pukul 10 saya meneruskan perjalanan ke cianjur, jalan cenderung menurun terus dan jam 11 saya sudah sampai kota. Perjalanan saya teruskan karena cenderung datar sehingga bisa gowes agak cepat. Saya sengaja memakai ban kecil maxxlite 285 yang sangat ringan khusus untuk onroad. Malapetaka mulai terjadi kira2 5 km sebelum jembatan rajamandala, ban belakang bocor sewaktu memasuki daerah bahu jalan berbatu tajam. Dengan yakin saya menepi untuk mengganti ban dalam, dan ternyata ban dalam yang saya bawa utk ukuran 29 ! Akhirnya saya mencari tukang tambal, beruntung tidak jauh saya menuntun sepeda dipanas terik. Disini saya baru tahu bahwa bukan hanya ban dalam saja yang bocor, tapi ban luarnya juga agak sobek. Karena tidak mungkin cari ban sepeda, akhirnya ban dalam ditambal dan ban luar diperkuat bagian yang robek. 

Perjalanan saya lanjutkan lagi, cuaca sangat panas, sekitar jam 12.30 saya sampai jembatan rajamandala. Disini saya istirahat agak lama, panas dan lapar terobati dengan es cingcau dan mie baso. Setelah cukup, perjalanan saya lanjutkan lagi dan jalan masih mulus mendatar namun ramai kendaraan, pukul 13 lebih saya sampai cipatat. Disini saya beristirahat lagi karena tidak tahan dengan cuaca yang panas. Sempat bertemu dengan bbrp teman yang juga akan ke bandung dan ternyata juga start dari bogor/gadog. Saya berangkat duluan untuk mengejar waktu jangan sampai gelap tiba di bandung. Malapetaka kembali terjadi, ban belakang kempes lagi ditikungan berkelok-kelok di citatah. Lagi lagi masih ada keberuntungan, dekat tukang tambal ban dan masih bisa ditambal, namun mamang tukang tambal wanti2 agar berhati-hati karena ban luar sudah tipis. Perjalanan saya lanjutkan lagi dan pukul 15.30 sampai di situ ciburuy. Disini saya kembali berhenti untuk melepas lelah dengan minum es kelapa muda. Perjalanan saya lanjutkan lagi menuju cimahi. Saya merasakan sesuatu yang aneh pada ban belakang, rasanya putaran ban tidak rata, mungkin didaerah yang robek tadi. 

Akhirnya sebelum sampai cimahi saya putuskan untuk loading saja daripada kena masalah ban lagi. Keberuntungan masih ada…taksi blue bird lewat, langsung saja saya stop dan minta diantar ke jatinangor, kosan anak saya. Alhamdulillah akhirnya pukul 17 saya sampai jatinangor dengan selamat.   Perjalanan bogor-bandung ke 4 kali sepanjang kurang lebih 134 km berjalan aman terkendali walaupun terkendala ban. 

20
Jan
17

Gowes ke Tangkuban Parahu

September 2015, sambil menunggu anak yang sedang menjalani kegiatan kampus didaerah Lembang, saya mencoba gowes ke Tangkuban Parahu. 

Seingat saya, waktu kecil saya pernah diajak oleh orangtua kesini, setelah itu  tidak pernah lagi, padahal saya melanjutkan sekolah di Bandung dan beberapa kali ke Bandung bersama keluarga. Perjalanan dimulai dari sebuah guest house di daerah pasar Lembang. Saya tidak tahu akan menempuh jarak berapa km dan berapa lama dan tidak mencari tahu, karena saya tahu perjalanan ini akan lama karena rutenya menanjak terus. Cuaca bulan September cukup terik sehingga beberapa kali berhenti karena sangat haus dan kepanasan. Sampai daerah Cikole kaki mulai kram, dari Lembang ke Cikole rute terus menanjak melalui jalan hot mix yang cukup padat lalulintasnya karena weekend. Diujung jalan yang menuju Cikole Jayagiri Resort terdapat bebeapa warung, saya berhenti karena kedua kaki rasanya sudah mau kram lagi. Setelah minum dan cukup istirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali sampai pintu gerbang Tangkuban Parahu. Kembali saya berhenti karena perut sudah lapar dan sudah tengah hari. Sambil makan saya akhirnya bertanya kepada si ibu warung, berapa jauh lagi ke Tangkuban Parahu, karena rasanya sudah putus asa juga dengan tanjakan yang nggak ada habisnya dan cuaca panas terik. Katanya sih sekitar 4 km tapi lebih nanjak lagi, tapi lebih adem koq katanya lagi, banyak pohon dikanan kiri dan jalannya belak belok jadi nggak terlalu terjal tanjakannya. Akhirnya saya lanjutkan perjalanan dengan perlahan, karena dipikir-pikir percuma saja kalau hanya sampai disini. Rute memang lebih adem dan banyak tikungan seperti didaerah Gn Mas Puncak, jalan cukup lebar namun yang lewat banyak bus wisata yang juga menyita jalan. Akhirnya sekitar jam 13.30 sampai juga saya dengan termehek-mehek di kawah Tangkuban Parahu.

Ingin rasanya saya mengeksplor lebih jauh lagi dikawasan ini, tapi kaki sudah nggak kuat, ditambah panas terik, sehingga saya hanya foto-foto didaerah bunderan.

Alhamdulillah akhirnya saya bisa tahu yang namanya Tangkuban Parahu dengan bersepeda, tahu jalurnya yang menanjak terus sekitar 15 km dari Lembang dan menguras tenaga, namun semua terbayar dengan keindahan kawahnya. 

20
Jan
17

Gowes Jatinangor-Kamojang-Jatinangor

April 2016, kembali gowes solo kali ini menuju Kamojang yang belum pernah saya tahu. Hanya berbekal googling dan membaca blognya teman yang pernah kesana, saya memberanikan diri untuk gowes sendiri.

Karena memang tidak direncanakan sebelumnya, alias galau mau gowes kemana, akhirnya saya baru berangkat dari jatinangor pukul 8 pagi. Cuaca cukup cerah, saya menyusur jalan raya rancaekek menuju arah majalaya. Jalan cenderung mendatar sepanjang kurang lebih 20km namun harus hati2 karena disana banyak delman dan banyak kotoran kuda. Pukul 9.30 saya sampai di sekitar pasar majalaya, setelah tanya sana sini akhirnya saya diarahkan untuk belok kiri melewati pertokoan dan nanti ada papan penunjuk arah kekanan menuju desa ibun. Karena belum sempat sarapan, saya sempatkan makan kupat tahu dulu disini sambil ngobrol sama si mamang tentang rute kearah kamojang. Setelah cukup kenyang dan istirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali, awalnya sih datar datar saja sepanjang 5 km kemudian menanjak halus dan menanjaaak terus sepanjang 5 km sampai jembatan kuning kamojang ( KAMOJANG HILL BRIDGE ). 

Dalam perjalanan sepanjang 5 km tersebut saya mulai putus asa, karena tidak tahu sampai mana nih nanjaknya dan beberapa kali berhenti karena tanjakannya walaupun ada yang tidak begitu curam tetapi panjang dan menguras tenaga. Beruntung saya bertemu dengan beberapa goweser yang juga mau kearah kamojang, sambil istirahat di warung saya bisa mencari informasi. Akhirnya saya sampai juga di kawasan kamojang, dan ternyata sudah dibangun jalan lintas kamojang dengan jembatan kuningnya. Hampir 1 jam saya beristirahat di warung didekat jembatan sambil foto foto disekitar jembatan. 

Dari sini menuju menuju PLTP kamojang/PT Indonesia Power ada 2 jalur, pertama melalui TANJAKAN MONTENG yang sangat legendaris dan aduhai pedasnya kata teman teman bandung, atau jalur baru lingkar kamojang atau dikenal dengan nama JALUR LINGKAR CUKANG MONTENG. Karena saya yakin tidak akan kuat dan baru pertama kali kesini, saya putuskan ikut jalan yang lebih sopan yaitu jalur lingkar saja dan ternyata teman teman bandung juga melewati jalur tersebut. Jembatan kuning ternyata menjadi tujuan wisata baik para goweser maupun pemotor. Banyak yang berselfie ria atau foto bersama di daerah jembatan ini…termasuk saya !

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan beton yang masih baru dan belum boleh dilewati mobil, karena belum ada rambu lalulintas, belum ada pembatas jalan sehingga kalau lengah kita bisa terperosok keluar jalur beton. Disini cuaca mulai panas dan hujan tidak jelas, pada saat kita memakai jas hujan, tidak lama hujan berhenti, akhirnya jas hujan harus dilepas karena tiba tiba cuaca panas. Saya melihat teman teman sudah banyak yang membuka baju pada saat melewati jalur beton ini. Ternyata disini kita masih terus menanjak sepanjang kurang lebih 5km, pemandangan tidak ada, hanya dikiri dan kanan ada pohon pinus. Dan celakanya tidak ada warung sepanjang 5km, mungkin karena masih sepi lalulintasnya. Disini saya mulai menghemat air minum, karena saya lupa tidak membeli diwarung terakhir sebelum jembatan. 

Akhirnya setelah mencapai puncak dari jalur beton, pada pukul 14 saya dapatkan jalan aspal yang menurun…bonus ! Menurun terus sampai PLTP KAMOJANG. masih juga belum ketemu warung, kebetulan ada tukang cireng lewat, habis langsung diserbu puluhan goweser yang kelaparan. Disni kita berfoto ria lagi dengan segala gaya didepan PLTP. Setelah cukup, perjalanan dilanjutkan lagi, tapi saya memilih pelan saja, karena ingin tahu ada apa saja disekitar sini. Dalam perjalanan menuju daerah samarang garut, banyak pemandangan yang cukup indah namun saya tidak bisa mengabadikan karena cuaca kurang bersahabat. Antara lain disini terdapat penangkaran elang dan kebun mawar, semuanya harus masuk kedalam lagi dan saya memang tidak bermaksud kesana. Secara kebetulan saya bertemu dengan kang Acep yang dulu tinggal di bogor, ternyata beliau gowes dari garut ke kamojang karena ingin bertemu dengan teman teman bandung. Akhirnya saya ditemani kang Acep gowes sampai samarang, dan kebetulan rumahnya memang didaerah tersebut. 

Dari samarang saya lanjutkan gowes ke kota garut, waktu sudah menunjukan pulul 17 sampai daerah bunderan. Disini mulai galau, karena kalau saya lanjutkan gowes ke jatinangor, saya tidak siap dengan lampu. Akhirnya saya putuskan untuk loading saja dan mencari mobil yang mau disewa ke jatinagor. Kebetulan didaerah bundaran ada pangkalan minibus carteran, dan saya minta diantarkan ke jatinangor.

Alhamdulillah, perjalanan gowes sejauh  52 km tanpa tahu arah menuju kamojang berjalan aman dan lancar, kemudian dilanjutkan dengan minibus yang juga  lancar, lalulintas tidak terlalu ramai dan pukul 18.30 saya sudah sampai jatinangor

20
Jan
17

Gowes ke Darajat Pass Garut

Sejak gowes ke kamojang garut dengan tanjakan yg aduhai bikin megap megap, saya bertambah penasaran karena menurut teman teman bandung, perjalanan kesana lebih jauh dan elevasi nya lebih tinggi serta banyak tempat wisata. 

Mei 2016 saya memulai perjalanan dari kota garut sekitar pukul 8.15 karena  berangkat dari jatinangor sudah pukul 7 kesiangan kemudian mobil saya titipkan dirumah teman. Sebelumnya saya googling terlebih dahulu karena saya tidak tahu arah ke puncak darajat. Patokan saya adalah kearah samarang, belokan pertama menuju ke kamojang, belokan kedua menuju puncak darajat. Jarak garut kota ke samarang sekitar 9km jalan datar dan tidak terlalu ramai. Saya mengikuti petunjuk di belokan kedua yang menuju puncak darajat, jalan mulai pelan pelan menanjak. Baru jalan 4 km saya sudah istirahat karena terasa lelah. Jalan menanjak halus dan panjang disertai panas terik, waktu menunjukan pukul 9.49 dengan elevasi sekitar 900mdpl, ketinggian kota garut sekitar 700 mdpl.

Setelah cukup istirahat, perjalanan saya lanjutkan walaupun masih panas terik. Jalan mulai semakin menanjak, 5 km kemudian saya berhenti lagi karena sudah merasa dehidrasi dan elevasi menunjukan 1200 mdpl. Perjalanan saya lanjutkan lagi dengan perlahan karena jalan mulai menyempit dan banyak mobil, motor maupun bus wisata besar yang menuju kawasan wisata. Jalan cukup halus karena katanya jalan tersebut dibuat oleh pengelola gas alam di kawasan kawah darajat. Beberapa kali saya harus berhenti mengalah dan kagok karena ada kendaraan yang antri waktu menanjak dan ada kendaraan yang harus jalan bergantian karena tikungan yang sempit.

Sekitar pukul 12 siang saya mulai memasuki kawasan darajat dan tak berapa lama terlihat tulisan DARAJAT PASS dikejauhan. Lagi lagi saya berhenti disini, elevasi menunjukkan 1400 mdpl. Karena tulisan sudah terlihat, saya semakin bersemangat untuk mencapai tempat yang ternyata masih jauuh dan nanjaknya ampuun. Akhirnya sekitar pukul 13 saya mencapai tulisan DARAJAT PASS di elevasi 1600mdpl yang ternyata suatu resort yang sangat luas dan merupakan resort terbesar dikawasan ini. Saya beristirahat di resort ini untuk makan siang seperti biasa indomie rebus. Setelah cari informasi, ternyata puncak darajat/kawah darajat masih sekitar 3 km lagi menanjak lebih curam lagi. Akhirnya saya putuskan untuk pulang saja karena langit makin mendung.

Sudah dapat diduga perjalanan pulang ke kota garut merupakan bonus, turun terus tanpa gowes sampai samarang. Alhamdulillah pukul 16 saya sudah sampai kota garut dalam cuaca gerimis. Selesai sudah perjalanan ke darajat pass pulang pergi sekitar 44 km dengan aman terkendali untuk melepas rasa penasaran saya. Saking capeknya saya sampai lupa untuk memotret pemandangan dan kebun  yang indah disekitar kawasan ini.

Perjalanan saya lanjutkan ke tempat anak di jatinangor dan pukul 18 saya sudah sampai ditempat kos. Setelah istirahat sebentar , saya menepati janji kepada anak saya untuk cari makan yang enak dan segar di paris van java….nyam nyam.

20
Jan
17

Gowes Bandung-Cimahi bersama Gowel Bogor

Mei 2013 saya bersama beberapa teman gowel bogor dan teman lain berkumpul di tajur. Tujuan kali ini adalah ke bandung, ini adalah gowes kedua saya ke bandung. Start dimulai pukul 7.00 menyusuri jalan raya tajur menuju ke gadog dan lanjut ke arah puncak. Istirahat dan regrouping pertama di taman safari sambil mengisi perbekalan air minum dan beristirahat. Perjalanan dilanjutkan kembali dengan melalui tanjakan tanjakan panjang di bimasakti dan hotel pardede. Kembali beberapa teman istirahat didaerah gunung mas untuk mengatur nafas. Udara mulai agak teduh dan kami kembali meliuk-liuk di tanjakan tanjakan menuju puncak. 

Pukul 12 seluruh rombongan sudah sampai di warung mang ade, selama kurang lebih 30 menit kami disini sambil mengatur nafas dan makan ala kadarnya. Perjalanan dilanjutkan  dengan turunan menuju cianjur, disini kami harus berhati-hati karena jalan banyak berlubang sehingga bila tidak waspada dan dengan kecepatan tinggi kita bisa celaka. 

Pukul 13.30 kami sudah sampai di cianjur dan makan siang di rumah makan 4 dara, agak keluar kota cianjur kearah bandung. Tempatnya cukup luas, makanan prasmanan juga enak dan harganya lumayan murah. Pukul 14 perjalanan kami lanjutkan dengan harapan tidak kemalaman sampai di bandung. Rute dari sini cukup datar, hanya ada bagian yg menanjak ringan sehingga kami bisa gowes dengan cepat, namun tetap harus hati hati karena lalu lintas cukup ramai, maklumlah hari sabtu, banyak kendaraan menuju bandung. Sampai di jembatan rajamandala kami regrouping sambil istirahat minum es kelapa muda dan cincau yang cukup menyegarkan badan.

Setelah cukup foto foto, perjalanan dilanjutkan menuju cipatat dan citatah. Kembali kami harus meliuk liuk ditanjakan citatah sambil waspada terhadap bus dan truk yang bersliweran dan memakan badan jalan. Udara disini selalu buruk penuh polusi karena memang disini adalah daerah gunung kapur dan ada perusahan marmer yang juga menimbulkan polusi pada proses pemotongannya. Dengan terengah-engah akhirnya pukul 17 kami sampai di situ ciburuy padalarang. Kembali disini kami beristirahat makan minum ala kadarnya sambil menunggu teman yang masih tertinggal. Karena masih ada yang tertinggal cukup jauh dan cuaca mulai gelap, saya dan beberapa teman berangkat mendahului. Perjalanan datar datar saja tapi ramai dengan segala kendaraan yang menuju bandung.

Sejak awal saya memang tidak akan menginap di bandung, rencananya setelah sampai bandung saya akan kembali dengan bus/travel. Ternyata jalan dari padalarang ke cimahi sangat padat dan sulit mengembangkan kecepatan. Akhirnya sampai cimahi saya putuskan pulang karena cuaca sudah mulai gelap. Saya mencari travel yang ke jakarta namun tidak ada karena sudah malam, sekitar pukul 19. Akhirnya saya kembali  ke derah padalarang didaearah dimana mobil bisa masuk tol ke bandung. Disini saya menunggu cukup lama, karena bus yang ke bogor via puncak jarang sekali. Setelah agak putus asa bagaimana ya pulang ke bogor, tiba tiba ada seseorang yang menanyakan tujuan saya. Ternyata orang tersebut juga mau meuju tajur bogor, akhirnya saya setuju untuk ikut minibus tersebut yang akan menuju bogor tapi masih harus menungu penumpang lain. Pukul delapan malam kami berangkat setelah minibus penuh. Oh ya saya menyewa 4 kursi belakang untuk sepeda dan saya.  Setelah menurunkan beberapa penumpang di cianjur dan sekitanya, mobil ngebut menuju bogor. Kemacetan seperti biasa terjadi didaerah taman safari, cimory, belokan menuju curug panjang, cilember dan gadog.

Akhirnya pukul 12 malam saya sampai di bmc. Alhamdulillah perjalanan ini aman terkendali.

07
Jan
17

Gowes GePang Gede Pangrango Loop

Berawal dari ajakan teman-teman gowel ke Situs Gunung Padang, tanggal 8 Oktober 2016 saya dan teman-teman berkumpul di Tajur Bogor. Sudah lama sekali saya tidak pernah gowes bareng mereka, terakhir adalah ketika gowes Bogor – Bandung akhir tahun 2015.

Setelah bersalaman ria dan cerita/foto sana sini, pukul 7.30 berangkatlah sekitar  80 peserta dari jabodetabek. Seperti biasa kita melewati jalur ciawi kemudian belok kanan kearah Sukabumi. Perjalanan dijalur ini perlu sedikit ‘ugal2an’ karena selalu macet, baik karena perbaikan jalan maupun pasar pasar yang kita lewati antara lain Caringin, Cigombong, Cicurug dan Cibadak. Dengan sedikit selap selip, naik trotoar, punten punten di tiap pasar, akhirnya qpukul 10 saya sampai Cibadak. Kami berempat beristirahat sambil menunggu teman teman yang masih tertinggal. Sekitar 15 menitan kami meneruskan perjalanan karena yg ditunggu belum muncul juga. Tiga orang berhenti di Cisaat untuk sarapan, akhirnya saya gowes sendiri karena saya memang tidak ikut ke Situs. Perjalanan ke Sukabumi lumayan lancar dan datar, disini saya istirahat agak lama karena dari sini menuju gekbrong jalan menanjak halus dan panjang. Pukul 11.30 saya berangkat lagi, dengan termehek-mehek sampai juga di daerah gekbrong dan setelah ini jalan mulai menurun dan datar sampai Cianjur. Mulai dari Warungkondang sekitar 10km sebelum Cianjur turun hujan lebat, tapi perjalanan tetap saya lanjutkan karena mengejar waktu jangan sampai kemalaman menuju puncak. 

Dari Cianjur dimulailah siksaan tanpa henti didaerah Cugenang, namun hujan cukup membantu sehingga badan tidak terlalu lelah . Sekitar pukul 16 saya sampai Cipanas masih hujan juga. Setelah istirahat beberapa saat, perjalanan saya lanjutkan, sambil terbayang tanjakan didaerah Ciloto yang sungguh aduhai.

Hujan mulai gerimis, gowes pelan pelan sambil menikmati lagu dari earphone, tak terasa sampai juga di mang ade pukul 17. Disini saya kembali istirahat menyeruput kopi susu hangat. Tidak lama saya lanjutkan perjalanan, hujan mulai deras lagi. Jalur mulai menurun, tapi cuaca mendung membuat saya harus pelan pelan dan hati hati. 

Akhirnya tuntas sudah perjalanan GePang Loop, berakhir di BMC pukul 19. Alhamdulillah perjalanan solo sejauh 144 km aman terkendali