15
Apr
18

Gowes ke Puncak Darma Ciletuh Sukabumi

Ini berawal undangan dadakan dari master sekaligus sweeper idola saya mas Yudi Al Basri untuk gowes ke Ciletuh.Saya mulai menganalisa info rute dari Bagbagan ke Ciletuh yang diberikan oleh master om Arief Isa yg baru saja kesana dan dari mas Yudi Al Basri.

Karena saya kurang suka curug dan laut, saya putuskan utk ikut sampai Puncak Darma saja dgn jarak sekitar 32 km dari Bagbagan dan kalau bisa setelah sampai ditujuan saya akan gowes lagi kembali ke Bagbagan.

Saya mengajak seorang teman gowes yg biasa nanjak dan blusukan, dengan pemikiran pasti sudah teruji nyalinya di segala medan.
Kami berangkat hari sabtu 14 April 2018 pukul 4 pagi dari RUMAH SAKIT BMC menuju Bagbagan yang merupakan tikum mas Yudi dkk dan akan sampai disana sekitar pukul 6.30.
Apa daya jalan macet sekali sehingga kita harus berputar menghindari pasar Cicurug yang cukup menyita waktu dan akhirnya baru sampai di Bagbagan pukul 7.00

Setelah sarapan, dan bersilaturahmi dengan mas Yudi dkk, kami berangkat pukul 7.30 menuju arah Loji. 

Jalan masih sepi dan mendatar sampai sekitar 10 km, cukuplah untuk pemanasan. Setelah ini dimulailah tanjakan demi tanjakan yang semakin curam dan turunan yang tajam. 

Karena mas Yudi dan kawan2 berhenti sedangkan saya dan teman harus mengejar waktu untuk kembali ke Bogor, perjalanan kami teruskan berdua.

Treknya benar2 diluar dugaan saya, setelah tanjakan panjang atau terjal, selalu ada turunan yang curam kemudian nanjak lagi sehingga rasanya kita diajak main roller coaster. 

Beberapa kali saya harus berhenti karena ada peringatan dari heart rate monitor saya di telinga bahwa heart rate saya sdh maksimal dan perlu istirahat. 
Beberapi kali juga saya harus berhenti untuk menyiram kepala saya dengan Aqua karena panas yang menyengat padahal baru pukul 9.

Tanjakan demi tanjakan bisa kita lalu tanpa menuntun, namun harus berhenti dulu sebentar.

Saya berpikir, menuntun sepeda di tanjakan yg panjang akan sangat melelahkan, lebih baik kita istirahat sebentar kemudian memulai lagi dan berjalan perlahan secara konstan. 

Sebagian rute adalah aspal mulus sehingga enak digowes, namun pada sekitar km 25 kita mendapatkan jalan beton yang cukup terjal tanjakannya dan kita harus melawan panas dari atas dan bawah. 
Disini handle bar mulai terangkat dan saya putuskan untuk menepi, utk mengatur nafas, sambil motret pemandangan yang indah dan motret teman yang sedang nuntun πŸ˜€πŸ˜€

Setelah cukup istirahat, kami lanjutkan gowes kali ini melalui jalan aspal, pelaan tapi pasti, tanjakan demi tanjakan kami lalui dengan khusyuk menunduk nggak liat kanan kiri 😞😞.
 Udara semakin terik karena sudah pukul 10, lagi2 saya mampir warung utk membeli pocari dan aqua utk menyiram kepala.

Tanjakan2 ini memang luar biasa dan banyak menipu, saya kira setelah sampai ujung tanjakan, kita mendapat jalan datar, ternyata pada saat kita belok masih ada tanjakan lagi 😰😰
Saya berpikir, sebetulnya siapa sih yang bikin rute ini, koq mayoritas didominasi oleh tanjakan. 

Beberapa kali saya berhenti karena kepanasan dan heart rate yg mencapai maksimal.

Akhirnya keliatan ada keramaian didepan, dan ketika saya tanya, itulah Puncak Darma !
Waktu menunjukkan pukul 11 dengan jarak sekitar 32 km. 

Kami ber-foto2 disini pada beberapa spot yang memang bagus banget 😍😍.

Setelah itu kami ke warung utk minum es kelapa muda yg banyak dijual di warung disekitar lokasi wisata tersebut.
Pengunjung hari ini sangat banyak, didominasi oleh motor, mobil dan beberapa goweser dari berbagai komunitas. 
Sayang sekali belum ada pengaturan yg profesional sehingg terkesan semrawut. 

Recana awal, kami akan kembali gowes pulang ke Bagbagan, namun dengan trek yg naik turun berliku, tenaga sudah pas2an, akhirnya kami putuskan untuk loading saja sampai ke Bogor.
Ada teman yang menganjurkan ke pantai Ciletuh, turunn sekitar 3 km lagi, namun karena sayankurang suka pantai dan curug, dan memang tujuannya hanya ingin tahu yang namanya Puncak Darma, ya kami hanya sampai disini saja.
Sekitar pukul 12.00 kami pulang dan bertemu dengan mas Yudi yang sedang menanjak sambil menemani teman2nya. 
Salut dengan mas Yudi yg dengan kesabarannya memberi dukungan dan dorongan bahkan juha sebagai joki membawa sepeda bagi teman2nya yang tidak kuat ditanjakan, luar biasa πŸ‘πŸ‘

Dalam perjalanan pulang, saya baru tau…oh rupanya beginilah rute yang tadi saya lewati, naik turun, menikung seperti hurus S atau huruf U dan penipuan rute karena selalu ada tanjakan tanjakan lagi setelah tikungan πŸ™ˆπŸ™ˆ
Saya membayangkan betapa indahnya jalur ini bila dilihat dari atas dan ternyata memang ada di you tube πŸ˜€πŸ˜€

Saya rasanya bermimpi, koq bisa ya tadi melewati jalur yang seperti ini. Dan karena selama gowes hanya menunduk khusyuk, sampai terlewati satu tujuan wisata lain yaitu Puncak Gebang πŸ˜‚πŸ˜‚. 
Setelah makan siang didaerah Cibadak, kami lanjutkan perjalanan pulang ke Bogor melalui kemacetan didaerah Cibadak, Cicurug, Cigombong dan Caringin.
Ditambah lagi kemacetan parah sewaktu masuk kota Bogor, maklum hari minggu, sampailah kami pukul 18.00 di RUMAH SAKIT BMC. 

Alhamdulillah, satu mimpi saya tercapai, namun untuk kesana lagi rasanya tidak lagi, cukup sekali saja, yang penting sudah merasakan tanjakan2 yg penuh tantangan dan harus dilalui dengan penuh kesabaran. 
Terimakasih kepada teman saya Handoko yang telah menemani dan telah motret2 moment yang mungkin tidak akan terulang lagi.

Terimakasih kepada master Yudi Al Bari dengan infonya yang sangat berguna. 

Ahamdulillah perjalanan ini berjalan dengan aman terkendali dan sungguh puas bisa melewati seluruh tanjakan2nya walaupun dengan sangat lambat dan beberapa kali istirahat. 
Dan yang membuat saya sungguh surprise, saya bertemu dengan seseorang yang naik N-Max dan kembali lagi kesamping saya sambil memperkenalkan diri bahwa beliau adalah pasen saya. 
Tidak lama saya dicegat lagi didepan oleh seseorang yang naik motor sambil keheranan, ternyata beliau adalah dokter di rumah sakit saya bekerja 😬😬

Betapa kecilnya dunia ini. 

Tetaplah bersepeda untuk senang dan sehat, ikutilah irama sendiri, jangan memaksakan diri untuk mengikuti orang lain yang memang lebih kuat. 

Iklan
08
Jan
18

Gowes ke Wana Wisata Batu Kuda

Pengen gowes tapi nggak terlalu jauh dari Jatinangor, setelah tanya teman2 bandung, katanya coba aja ke Batu Kuda aja, paling 2 jam sudah sampai. 

Setelah tanya arahnya, katanya bisa beberapa pilihan, lewat Tanjungsari Sumedang, lewat Kiara Payung atau lewat Vila Bandung Indah didaerah Cileunyi. Akhirnya saya pilih lewat Cileunyi yang lebih dekat. 

Berangkat jam 6 pagi, udara sejuk cerah, saya menuju Cileunyi, dan mencari jalan menuju Vila Bogor Indah. Jalan aspal mulus sekali, masih sekitar 5 km dari kosan anak. Tidak lama jalan mulai menanjak tetapi masih terkendali. Saya berhenti di sebuah warung di pertigaan, karena ada jalan terus menanjak dan kekanan mendatar. Sambil beristirahat, minum pocari, saya melihat elevasi 818 mdpl, pantes agak ngos2an sampai disini. 

Setelah cukup istirahat, saya teruskan perjalanan mengambil jalan lurus menanjak, katanya masih sekitar 5 km . Jalan aspal semakin menanjak dan ada yang berkelok sehingga agak kagok kalau ada mobil karena hari ini hari minggu, banyak motor dan mobil yang kearah atas. Akhirnya saya beristirahat lagi karena nafas sudah tidak teratur, jalan nanjak nggak ada hentinya. Disini saya lihat elevasi  1083 mdpl !…waduh pantes aja roda depan sampai ngangkat2. Saya lihat disini banyak anjing dijalan, namun ada juga yang diikat, sepertinya anjing untuk berburu. Agak khawatir juga saya, takut nanti dikejar anjing, tetapi saya lihat anjingnya tenang2 saja, mungkin tidak merasa terusik juga. 

Setelah cukup istirahat, perjalanan saya teruskan lagi, masih dalam posisi jalan menanjak, katanya sih tinggal 1 km lagi. Sambil gowes, saya lihat kedepan….astagaa !!…tanjakan nggak kelihatan ujungnya dimana, ya sudahlah kita nikmati saja perlahan-lahan. Baru menikmati tanjakan yang cukup terjal sendirian, eh ada mobil klakson2 dari belakang…. inilah yang paling saya takutkan di tanjakan yang sempit, kita bisa kagok kehilangan momentum, bisa jatuh atau kram. Akhirnya saya memilih berhenti didaerah yang aman, saya persilahkan mobil lewat, para penumpangnya teriak : ” maaf ya paaak ” saya hanya bisa senyum karena sudah kehilangan momentum, kita kan modal dengkul, sementara mobil tinggal injak pedal gas. 

Saya teruskan gowes lagi, tanjakan masih terjal juga, tiba-tiba tidak lama terlihat tempat jual tiket masuk. Alhamdulillah sampai saya juga di Wana Wisata Batu Kuda dengan jarak 10 km dengan elevasi 1164 mdpl dengan waktu hampir 2 jam….Ampuun, ini salah satu dari beberapa tanjakan yang sulit dikendalikan, handle bar sudah ngangkat, kekanan.. kekanan…kekiri… kekiri seperti senam maumere hehehe. 

Saya hanya foto2 diarea parkir, itupun minta tolong suami istri yang sedang foto2. Katanya masih ada tempat yang bagus didalam hutan pinus, tapi harus jalan kaki karena jalur berbatu-batu. Saya memilih ke warung aja makan indomie rebus dan kopi 3 in 1. 

Hanya 15 menitan disana, saya turun takut ada hujan. Kebayang turunnya gimana kalau jalan licin, naiknya aja sudah ampun-ampunan. Tidak sampai 40 menit saya sudah sampai kembali di kosan anak.

Alhamdulillah perjalanan ini aman terkendali, mungkin teman2 bandung sengaja nggak ngasih info jalur nanjaknya aje gile, biar saya menikmati tanjakan lain di bandung selain caringin tilu dan puncak bintang. 

04
Sep
17

Gowes ke Paseban Megamendung 2017

Ini adalah ritual saya pribadi, setiap tahun ke Paseban Megamendung. Entah kenapa saya suka sekali kesini selain ke Sukamantri, padahal untuk mencapainya harus melalui tanjakan2 yg cukup berat buat saya. 

Sabtu akhir Agustus 2017 saya berangkat dari rumah, kali ini sendirian krn teman2 berhalangan berhubung ada long weekend iedul adha. Tepat jam 7 pagi saya berangkat dari rumah, menuju katulampa, menyusur jalan tol menuju gadog langsung kearah megamendung. Karena long weekend, jalur lumayan padat sehingga sepeda pun agak susah melintas dikiri jalan. Biasanya saya istirahat di warung depan pusdik reskrim megamendung, tapi kali ini saya lanjut saja karena ingin cepat sampai, mengingat cuaca bogor saat ini cukup panas menyengat. Sekitar pukul 10 saya sampai curug panjang, disini saya istirahat di warung terakhir diatas sambil makan indomie. 

Tidak lama perjalanan saya lanjutkan dengan menuntun dan menggendong sepeda menaiki bukit yg cukup terjal dan berbatu untuk memotong jalur menuju paseban. Sebetulnya ada jalur yg lebih nyaman, tetapi harus turun lagi dan menanjak lagi menuju jalur paseban. Disini tenaga cukup terkuras karena cuaca mulai panas sementara sepeda tidak bisa di gowes. Sampailah saya di jalur paseban dan kaget karena jalur ini sudah diaspal mulus, tadinya jalur ini di beton ganda sehingga kurang nyaman utk gowes karena menanjak terus. 

Ternyata jalur aspal memang lebih enak, walaupun menanjak, kita bisa meliuk -liuk sambil memperhatikan depan siapa tau ada motor dari depan. Kali ini perjalanan terasa sepi sekali, hampir tidak bertemu orang, sepeda motor apalagi goweser, padahal biasanya banyak yang menuju ke curug cibulao. Dengan termehek-mehek sampai juga saya didaerah curug cibulao, ternyata aspalnya hanya sampai disini saja, jalur selanjutnya menuju lapangan paseban masih batu2 besar yang sudah ditata. 

Mungkin jalur batu2 ini hanya sekitar 500 meter, namun rasanya panjang sekali dan cukup susah saya mengendalikan sepeda.

Sekitar pukul 11 sampailah saya di warung paseban,  disambut oleh teh lilis yang kaget melihat saya sendirian. Menurut info yg saya dapat, jalur menuju paseban mulai diaspal beberapa bulan yang lalu, mungkin karena ada tujuan wisata curug cibulao yang mulai ramai dikunjungi. Dan juga karena disebelah jalan menuju curug ada vila milik salah satu anggota DPR, berkah buat penduduk kampung paseban untuk memasarkan hasil kebunnya. 

Saya hanya minum teh manis disini yang penting sudah bersilaturahim dengan keluarga warung paseban yang selalu ada dalam ingatan saya. Saya mencoba turun melalui jalur lain yaitu menuju cilember gang pesantren. Lumayanlah sudah banyak yang diperbaiki walaupun masih ada beberapa ruas yang rusak cukup parah dan hanya menyisakan 1 lajur saja. 

Alhamdulillah perjalanan kali ini aman terkendali, sekitar pukul 13 saya sudah dirumah lagi. Sampai bertemu lagi tahun depan PASEBAN. 

29
Mei
17

Gowes ke Puncak EuradΒ 

Tertarik dengan posting om Arief Isa dkk yang sedang berfoto ria di Puncak Eurad, saya mencoba googling dimanakah letak tempat tersebut. Ternyata yang saya dapatkan semua harus melalui jalur offroad yang selama ini saya hindari. Akhirnya saya janjian sama om Arief Isa untuk bertemu di daerah antara Lembang dan Maribaya dan kita akan gowes bersama kesana. 

Sabtu pada bulan Mei  2017 jam 5 pagi saya bersama sopir berangkat dari Bogor menuju Lembang Bandung lewat Subang dengan harapan bisa sampai lebih cepat. Ternyata banyak sekali halangannya, setelah kota Subang kita dapatkan jalan menanjak terus kadang disertai tikungan, sehingga bila didepan kita ada mobil truk atau bus, perjalanan kita menjadi terhambat. Setelah Tangkuban Parahu baru trafik agak lancar menuju Lembang. Akhirnya kita sampai Lembang kota sekitar jam 10.30, sudah termasuk sarapan di Subang. Kalau kita berangkat jam 5.00 pagi dari Bogor lewat tol Cipularang dan lewat kota Bandung, mgk jam 8 kita sdh sampai Lembang !. Satu pelajaran buat saya apabila kedaerah Lembang lagi. 

Karena sudah sangat terlambat, om Arief dkk sudah melewati rencana titik kumpul dan jam 9 beliau dkk sudah mendahului. Namun saya diberi petunjuk, gowes saja kearah sespimpol, lewat lagi sedikit nanti  cari jalan Ciputri, belok kiri ikuti jalan tersebut. Saya ikuti petunjuk tersebut dan sampailah saya diperempatan jalan Ciputri, yang kekiri arah Puncak Eurad, arah terus ke Maribaya, arah kanan ke Dago lewat Pra Mestha Resort. 

Saya ikuti jalan yang kekiri sambil tanya sana sini jalan yang kearah tujuan. Ternyata didepan masih ada pertigaan dan kita harus ambil arah kanan yang menurun. Setelah ini mulailah jalan agak menanjak halus dan panjang. Sampailah disuatu desa lupa namanya, saya membeli air minum sambil istirahat. Saya tanya lagi yang namanya Puncak Eurad, masih jauuh kata si ibu warung dan nanjak teruus. Hadeuuh, putus asa rasanya, hari sudah siang tapi sudah terlanjur sampai Lembang, pantang pulang ! Saya teruskan perjalanan, didepan ada pertigaan lagi, kita ambil arah kiri selanjutnya luruus terus ikuti jalan aspal, begitu petunjuk penduduk desa terakhir. 

Sambil termehek-mehek menanjak, saya lihat ada beberapa goweser istirahat di warung, saya tanya apakah ini rombongan pak Arief Isa ?…ooh beliau dkk sudah didepan dari tadi katanya. Okelah saya nggak mampir deh, takut nggak ketemu sama om Arief Isa…tolong sampaikan salam dari Tim Itikurih ya, dari teh Ina, tinggal 2 tanjakan lagi koq…begitu kata mereka ketika saya melanjutkan gowes. Didepan sudah menghadang tanjakan yang bikin nyali menciut, tapi masih bisa dihadapi. Tapi kenapa sudah lebih dari 2 tanjakan koq masih belum sampai juga ya ? . Akhirnya saya berpapasan dengan beberapa goweser yang sedang turun dan ternyata diantaranya adalah om Arief Isa ! Mungkin saya sudah ditunggu lama, akhirnya mereka pulang lebih dahulu. Disini kami sempat berfoto dulu…tenaang nggak jauh lagi paling tinggal 2 – 3 kelokan lagi sampai, jangan lupa nanti ada umbul umbul ambil arah kiri, kalau ke kanan sampai ke Subang….begitu kata om Arief Isa sebelum berpisah. Perjalanan saya teruskan lagi, jalan masih nanjak halus dan berkelok-kelok, ini sudah lebih dari 3 kelokan koq belum keliatan juga umbul umbulnya ?. Akhirnya saya baru sadar dan ingat kata teman teman : DON’T TRUST BIKERS !  Dengan sabar saya ikuti terus jalan aspal yang mulai terkelupas batu batunya dan bikin ban suka selip, dan ketemulah itu umbul umbul. Disini saya sempat berpose sejenak sebelum menuju arah warung. Cukup sekali saja sebagai penanda SELAMAT DATANG DI WISATA PUNCAK ERAD … Erad…Eurad… Terserahlah pokoknya saya sudah sampai….horee ! 

Ternyata benar kata om Arief, disini masih ada beberapa teman yang sedang bersiap siap untuk turun. Saya langsung menuju warung dan pesan bandrek susu, cukup segar untuk mengatasi rasa lelah diperjalanan tadi. Tidak lama datanglah Tim Itikurih yang tadi bertemu di warung, dan ternyata salah satunya adalah kang Dadang Herina, yang sudah saya kenal 4 tahun yang lalu ketika ke Bogor bersama om Arief Isa. Perbincanganpun menjadi semakin akrab, mengenang nostalgia menaklukan 3 bukit di Bogor. Senang sekali bertemu dengan mereka, mendapat teman baru yang ramah, baik hati dan rendah hati, diantaranya teh Ina Sadeli, pak Wahyu, bu Puji dan lain lain yang saya lupa namanya. Ternyata di warung tersebut bisa pesan nasi merah beserta ayam dan sambel lalab, sayang saya sudah kenyang makan di Subang. 

Setelah cukup ngobrol dan berfoto ria, akhirnya sekitar jam 13.00 kita pulang melalui jalan Ciputri-Pramestha Resort -Dago Bengkok 1.5 dan kita berpisah di simpang Dago, karena saya melanjutkan perjalanan ke Jatinangor. 

Akhirnya terjawab sudah yang namanya Puncak Eurad, terletak sekitar 15 km dari Kota Lembang kearah Maribaya demgan ketinggian 1400 mdpl. Daerah ini baru dibuka untuk memperlancar distribusi hasil kebun dari Subang ke Lembang dan sebaliknya, sebelum ada jalan ini, jalur distribusi hasil kebun harus melalui jalur utama Tangkuban Parahu. 

Alhamdulillah jam 17.00 akhirnya saya sampai di kosan anak saya di Jatinangor setelah menempuh jarak 45 km dari Puncak Eurad melewati keruwetan di Gasibu,  Cicaheum,  Ujungberung, Cibiru, Cinunuk dan Cileunyi di hari Sabtu. 

25
Jan
17

Gowes Tour dezerotozero 2107 Bogor-Bandung kedua.

Seperti yang telah direncanakan jauh hari, beberapa petinggi komunitas polisi bersepeda di bogor ( robocop ) yang dimotori oleh bpk mayor polisi arif gunawan, berkumpul bersama petinggi gowel bogor dan komunitas bersepeda lainnya se jabodetabek untuk menyelenggarakan event kedua gowes bogor ke bandung dengan tema : tourzerotozero2017 atau 020.

Ternyata animonya sangat membludak melebihi 200 peserta (dibandingkan tahun lalu hanya sekitar 100 peserta ), bahkan pada penutupan pendaftaran akhir mencapai 300 peserta. Belum lagi yang ikut sebagai romli ( rombongan liar )  yang tidak terdaftar pada panitia. Akhirnya diputuskan untuk membagi peserta menjadi beberapa komunitas, antara lain : gowel bogor, lintas, romli, gnf dll sehingga tanggungjawab dapat diserahkan sebagian kepada mereka. Panitia tetap menyediakan mobil utk evac dan ambulans, namun para komunitas diharapkan juga menyiapkannya. 

Sesuai rundown acara, kita sudah berkumpul di balaikota bogor pukul 5 pagi, untuk menyiapkan sepeda masing masing, dan ada yg sarapan disekitar lokasi. Pukul 5.30 dimulai penjelasan mengenai rute dari panitia , diikuti sambutan dari kapolresta bogor dan walikota bogor sekaligus melepas peserta pada pukul 6.15.

Rute dimulai melingkari istana bogor menuju arah jl pajajaran langsung ke ciawi dan gadog. Kepadatan sudah terlihat dari arah gadog namun hanya sebentar dan jalan kembali sepi menuju megamendung. Cuaca hari ini cukup panas, sehingga beberapa peserta mulai tampak di evak sampai cisarua. Mulai dari cisarua, peserta mulai terpisah berdasarkan kecepatan masing masing. Pukul 11 kami sampai di lokasi regrouping  pertama di pos polisi puncak pass, namun sebagian ada yang mampir di mang ade untuk sarapan termasuk saya. Kelompok terdepan sudah melanjutkan lebih dahulu menuju lokasi regrouping kedua di rumah makan empat dara di cianjur. Setelah cukup istirahat kami lanjutkan perjalanan menuju cianjur dan sanpai dilokasi sekitar pukul 13.oo. Disini kami melakukan istirahat sambil minum es kelapa, ada yang makan siang sekaligus sholat lohor.

Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan tujuan regrouping di jembatan rajamandala. Jalan cukup datar sehingga kami dapat meningkatkan kecepatan, namun cuaca panas sangat menguras tenaga. Ada beberapa teman yang mengalami kram sehingga kami harus berhenti sebentar kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Saya sendiri mengalami sakit sekali didaerah bahu kanan, sehingga terpaksa beberapa kali berhenti dan saya minta teman teman tetap melanjutkan saja tapi tunggu saya di rajamandala. Dengan susah payah akhirnya saya dapat mencapai rajamandala pukul 17 dan sempat mendapat perawatan dari titi, fisioterapis bmc yang sengaja saya ajak, siapa tau ada yang bisa  dibantu. Alhamdulillah perjalanan dapat saya lanjutkan lagi tapi saya tetap dibelakang agar tidak menghambat teman teman yang lebih cepat. Penderitaan mulai terjadi setelah cipatat, kita mulai meliuk-liuk didaerah citatah sekitar magrib dan cuaca mulai gelap. Beberapa kali saya harus berhenti untuk meredakan sakit di bahu kanan  saya. Sebetulnya ada mang okky gowel bogor yang selalu mengikuti kita yang ternyata semuanya gowel bogor, dan siap mengevac, tapi rasanya saya masih mampu walaupun lambat.

Dengan menahan sakit ditambah hujan mulai turun saya tetap melanjutkan perjalanan ditanjakan citatah hanya bertiga, om fajar dan temannya. Mendekati situ ciburuy, teman om fajar katanya sudah mengalami halusinasi sehingga minta di evac saja, sementara om fajar akan tetap mendampingi saya, walaupun saya suruh duluan tetap tidak mau, terimakasih buat om fajar ! 

Akhirnya setelah terseok-seok, sampai juga saya di situ ciburuy pukul 19.00 dan beberapa teman sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke bandung…saya sampai right on time, karena mereka semua ternyata peserta gowel bogor dan hanya menunggu saya. Disana sudah menunggu antara lain om tutun, om audy, mas yusa, pakde rio, mang ncas, mang doddy dll yang saya tidak ingat satu persatu dan setelah berhitung ternyata berjumlah 17 orang. 

Perjalanan dilanjutkan bersama dalam keadaan cuaca gerimis, awalnya saya bertindak sebagai tour leader karena dianggap yang tau bandung, didaerah cimahi saya mengundurkan diri digantikan oleh om audy dan om tutun karena kecepatan saya mulai menurun. Om okky dengan mobilnya tetap siap dibelakang untuk mengevac.

Akhirnya pukul 21 kami sampai di lokasi finish gedung binamarga jl asia afrika. Ternyata hal ini sama dengan perjalanan tahun lalu, kami finish disini pukul 21. Namun kelompok depan sudah finish duluan pukul 18.30. Setelah bersilaturahmi dengan teman teman bandung dan saya sempat bertemu dengan sohib saya om arief isa, setelah minum dan makan snack, akhirnya kami berpisah menuju tempat menginap masing masing.

Alhamdulillah tour bogor-bandung berjalan aman terkendali walaupun lambat tidak sesuai dengan acara. Ini adalah perjalanan bersepeda saya dari bogor ke bandung yang kelima, semoga masih diberi kekuatan untuk perjalanan berikutnya. Terimakasih kepada teman teman gowel bogor yang dengan sabar menunggu saya dan finish bersama di bandung. 

20
Jan
17

Gowes Jatinangor-Nagreg-Cijapati-Jatinangor

Berawal dari dua kali gowes jatinangor-cijapati-nagrek-jatinangor…saya ingin mencoba bagaimana ya kalau dibalik?…pasti di tanjakan kopi bakalan termehek-mehek.

Berangkat pukul 8 pagi dari jatinangor menuju nagreg, ternyata trafiknya sudah padat, mungkin banyak yang liburan kearah garut/tasik. Jalan raya cicalengka sudah sedemikian lebarnya masih saja saya hampir keserempet mobil elf yang ngebut dilajur kiri. Rute ini tidak terlalu berat, menanjak halus namun banyak kendaraan mungkin karena hari libur juga. Sampai Nagreg kita disuguhi turunan yang sangat curam, terbayang bagimana ya kalau dibalik seperti dulu, belum ada jalan lingkar nagreg.

Sampai nagreg pukul 9.30 saya istirahat sebentar sambil menikmati jembatan yang sangat berguna bagi kita yang menuju bandung dari garut atau tasik. Tidak ada lagi tanjakan curam, namun harus sedikit melingkar menuju cicalengka. Perjalanan saya lanjutkan melalui jalan yang mulus menuju kadungora. Disinilah terdapat pertigaan menuju cijapati lanjut cicalengka. Setelah gowes sekitar 4 km, mulailah kita disuguhi tanjakan kopi yang tidak ada habisnya, sesuai dengan namanya…tanjakan ini pahit sekali !! Sepanjang 6 km ada sekitar 6 tanjakan yang lumayan dan membuat saya tidak malu malu untuk turun beristirahat atau menuntun sepeda. Luar biasa, belum pernah saya dapatkan tanjakan seperti ini di bogor.

Akhirnya pukul 12 baru saya bisa mencapai ujung tanjakan cijapati, banyak terdapat warung dikiri jalan, dimana kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan yang indah dikejauhan. Tidak bosan bosannya saya kedaerah ini, jalurnya tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi, tapi untuk melalui tanjakan kopi saya rasa cukup sekali sajalah. Hampir 1 jam saya beristirahat disini karena tenaga sangat terkuras, sambil makan indomi, minum kelapa muda dan foto2. Perjalanan pulang sangat menyenangkan karena turun teruus sampai cicalengka dan datar sampai jatinangor. Alhamdulillah perjalanan solo sekitar 64 km berjalan dengan aman terkendali. 

20
Jan
17

Gowes Bogor – Bandung

Agustus 2016 saya mendapat undangan dari om Arif Isa dkk dari bandung yang mengadakan bike camping di cibodas. Saat itu saya menyanggupi utk hadir, ternyata bersamaan dengan jadwal saya menengok anak di jatinangor. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat gowes ke bandung tapi mampir dulu ke cibodas. 

Pukul 5 pagi saya sudah start dari bogor, dengan harapan sore sudah bisa masuk bandung, belum lagi harus ke cibodas dulu. Perjalanan gowes ke puncak pagi hari ternyata enak sekali, jalan sepii…iyalah, hari itu cuma saya kayaknya yang gowes ke puncak. Untuk menghemat waktu, saya nggak mampir di mang ade, bablas aja ke cibodas. Karena saya belum pernah kesana, saya ikuti saja papan penunjuk arah menuju bike camp cibodas, dan ternyata ampuun nanjak terus sepanjang 5 km dari jalan raya cipanas. Tetapi semua lelah hilang sirna setelah bertemu sesepuh goweser bandung : om arif isa, om rizky sutriadi dkk, bahkan kita sempat sarapan bareng ala turinger. Saya tidak berlama-lama disini karena perjalanan masih jauh. 

Sekitar pukul 10 saya meneruskan perjalanan ke cianjur, jalan cenderung menurun terus dan jam 11 saya sudah sampai kota. Perjalanan saya teruskan karena cenderung datar sehingga bisa gowes agak cepat. Saya sengaja memakai ban kecil maxxlite 285 yang sangat ringan khusus untuk onroad. Malapetaka mulai terjadi kira2 5 km sebelum jembatan rajamandala, ban belakang bocor sewaktu memasuki daerah bahu jalan berbatu tajam. Dengan yakin saya menepi untuk mengganti ban dalam, dan ternyata ban dalam yang saya bawa utk ukuran 29 ! Akhirnya saya mencari tukang tambal, beruntung tidak jauh saya menuntun sepeda dipanas terik. Disini saya baru tahu bahwa bukan hanya ban dalam saja yang bocor, tapi ban luarnya juga agak sobek. Karena tidak mungkin cari ban sepeda, akhirnya ban dalam ditambal dan ban luar diperkuat bagian yang robek. 

Perjalanan saya lanjutkan lagi, cuaca sangat panas, sekitar jam 12.30 saya sampai jembatan rajamandala. Disini saya istirahat agak lama, panas dan lapar terobati dengan es cingcau dan mie baso. Setelah cukup, perjalanan saya lanjutkan lagi dan jalan masih mulus mendatar namun ramai kendaraan, pukul 13 lebih saya sampai cipatat. Disini saya beristirahat lagi karena tidak tahan dengan cuaca yang panas. Sempat bertemu dengan bbrp teman yang juga akan ke bandung dan ternyata juga start dari bogor/gadog. Saya berangkat duluan untuk mengejar waktu jangan sampai gelap tiba di bandung. Malapetaka kembali terjadi, ban belakang kempes lagi ditikungan berkelok-kelok di citatah. Lagi lagi masih ada keberuntungan, dekat tukang tambal ban dan masih bisa ditambal, namun mamang tukang tambal wanti2 agar berhati-hati karena ban luar sudah tipis. Perjalanan saya lanjutkan lagi dan pukul 15.30 sampai di situ ciburuy. Disini saya kembali berhenti untuk melepas lelah dengan minum es kelapa muda. Perjalanan saya lanjutkan lagi menuju cimahi. Saya merasakan sesuatu yang aneh pada ban belakang, rasanya putaran ban tidak rata, mungkin didaerah yang robek tadi. 

Akhirnya sebelum sampai cimahi saya putuskan untuk loading saja daripada kena masalah ban lagi. Keberuntungan masih ada…taksi blue bird lewat, langsung saja saya stop dan minta diantar ke jatinangor, kosan anak saya. Alhamdulillah akhirnya pukul 17 saya sampai jatinangor dengan selamat.   Perjalanan bogor-bandung ke 4 kali sepanjang kurang lebih 134 km berjalan aman terkendali walaupun terkendala ban.